Hati-hati dengan wabah 'haji selfie'

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Hati-hati dengan wabah 'haji selfie'

Sebanyak 2,6 juta umat Islam dari seluruh dunia akan melaksanakan ibadah haji tahun ini. Jumlah tersebut meningkat sebanyak 800 ribu jemaah dari tahun sebelumnya. Angka tersebut adalah akumulasi dari penambahan kuota kepada sejumlah negara, termasuk penerimaan jemaah asal Iran yang tahun lalu diboikot.

Pada tahun ini, Indonesia akan memberangkatkan 221 ribu jemaah. Kloter pertama sudah berangkat sejak 28 Juli lalu. Segala persiapan telah dilakukan, terutama persiapan dari sarana dan prasarana serta pembekalan hukum seputar ritual haji. Di luar itu, semuanya dikembalikan kepada jemaah, terutama soal kekhusyukan saat menjalani ibadah.

Setakat ini, gangguan kekhusyukan ibadah yang banyak menjadi perhatian adalah wabah “haji selfie”. Demam selfie diprediksi bakal segera menghiasi dinding Facebook atau Instagram di musim Haji seperti sekarang ini. Update kabar bakal selancar jurnalis mewartakan berita untuk media tempat dia bekerja, bahkan bisa jadi lebih cepat. Perilaku ahli ibadah dan pelancong menjadi kabur hingga sulit dibedakan.

Seorang tersenyum dengan bibir selebar irisan semangka lalu jepret, lantas mengirim fotonya dengan teks “subhanallah, tak terasa sudah tujuh kali putaran. Padahal, jarang jogging, alhamdulillah”, dengan latar Ka’bah dan padatnya orang thawaf. Aktivitas lain yang rawan swafoto adalah ketika mencium hajar aswad, berziarah di makam Nabi Muhammad saw atau gua Hira, hingga wukuf di Arafah.

Jelas bahwa semua orang tahu kalau pamer ibadah itu terlarang. Namun, orang-orang ini mempunyai argumen bahwa pamer atau tidak itu tergantung niatnya. Ada lagi yang mengatakan bahwa unggah kegiatan ibadahnya adalah untuk memotivasi orang. “Semoga yang belum ke Tanah Suci, cepat ke sini,” katanya laiknya motivator dadakan.

Yang lain bahkan lebih tajam mengatakan, “Jika tidak suka dengan postingan saya, silakan unfriend atau diblok aja.” Atau, ada yang menggunakan logika ABG kesiangan dengan mengatakan, “Apa gunanya punya Instagram kalau tidak di-update dengan foto dan status kekinian?”

Yang pasti adalah, sejak beberapa tahun lalu, ponsel berkamera adalah barang terlarang untuk dibawa ke Masjidil Haram dan Nabawi. Jadi, jamaah pasti menabrak hukum dengan membawanya secara diam-diam. Memang tidaklah sulit untuk menyelundupkan ponsel yang kecil tersebut, sebab pemeriksaan saat memasuki masjid tak dapat dilakukan seketat memasuki Pentagon. Akan tetapi, seharusnya setiap Muslim tahu bahwa yang wajib ditaati setelah Allah dan Rasulnya adalah pemilik otoritas (ulil amri).

Selfie saat Haji atau Umroh tampak menjadi wabah yang lebih sulit dikendalikan. Bahkan, sejumlah tempat selfie favorit dapat menjadi bagian dari promosi oleh tour guidance biro umroh atau haji.

Semua ibadah, termasuk haji, adalah bentuk komunikasi seorang hamba dengan Tuhan. Apabila memegang ponsel saat sedang rapat dengan klien saja dianggap tabu, bagaimana kala berdialog dengan Yang Mahakuasa? Memikirkan gaya selfie di saat ibadah pastinya dapat mereduksi esensi peribadatan.

Ibu Qayyim al-Jauzi (wafat 751) mengatakan, "Khusyuk bagi orang beriman adalah ketika hati merasa sadar dan tunduk kepada kebesaran dan kekuasaan Allah, yang dipenuhi dengan perasaan takjub, takut dan malu, cinta serta pengakuan akan rahmat Allah dan dosa-dosa yang pernah dilakukan. Jadi, tak diragukan lagi bahwa khusyuk adalah hati yang diikuti kekhusyukan raga.”

Yang termasuk aneh adalah ada jamaah yang sempat memotret dan merekam menggunakan ponsel khatib yang tengah berkhotbah di Masjidil Haram. Ibadah tak ubahnya mengikuti konser. Perbuatan ini tak hanya melulu soal orang yang terjangkit wabah selfie, tetapi juga dapat menganggu orang di sekelilingnya.

Oleh karena itu, bagi siapa pun yang tengah beribadah, Tuhan tidak melihat gaya selfie kita tetapi ketundukan hati kita. Kita berharap pulang dari Mekah menjadi Haji Mabrur, bukan gelar Haji Selfie.

Ulama terkenal Arab Saudi, Sheikh Abdul Razzaq Al-Badr, pernah mengingatkan jamaah yang suka berfoto ria selama menunaikan ibadah di Tanah Suci. Katanya mengutip sabda Nabi Muhammad, “Ketika mencapai Miqat, Nabi (saw) berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah Haji ini tanpa riya (pamer) dan tanpa berusaha untuk didengar orang.”

Strategi jitu penjualan hewan kurban jelang Idul Adha
DPR batalkan pembangunan apartemen, gedung miring?
Utang luar negeri makin mengkhawatirkan
Ekonomi Indonesia bergantung pada Cina, berbahaya!
Bu Susi belum maksimal jalankan amanat UU Perlindungan Nelayan
Fetching news ...