Tak setiap orang pantas menerima bantuan

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Tak setiap orang pantas menerima bantuan

Membantu sesama adalah anjuran setiap agama dan budaya sekaligus. Sayangnya, proses bantu-membantu tak selalu mulus.

Hambatan terjadi dalam sejumlah situasi, misalnya ketika sedang butuh, yang membantu tidak ada; atau, kala ingin membantu, yang dibantu menolak. Yang kedua terjadi dalam situasi yang hampir sama banyaknya dengan yang pertama. Secara umum, entah menolak membantu atau dibantu sama-sama tidak baik. Yang pertama berarti menolak kebaikan, sedangkan yang kedua menghalangi orang untuk berbuat baik.

“Mau makan apa?”

“Oh, tidak usah-tidak usah.”

Situasi di atas adalah contoh yang sangat lazim di budaya kita. Terutama orang asing, situasi ini menjadi salah satu yang mereka keluhkan dari orang Indonesia. Padahal, mereka serius ingin memberikan pelayanan terbaik, tapi ditolak!

Situasi selanjutnya adalah orang merasa perlu dibantu dan mau menerimanya, tapi sejatinya dia tidak layak dibantu. Situasi ini terjadi pada dua kasus. Pertama, ada orang yang mampu tetapi dia berharap-harap bantuan, seperti pengemis profesional atau orang perkasa yang berlagak lemah.  Kedua, orang yang secara hakiki membutuhkan bantuan tetapi dia tidak memantaskan diri untuk menerimanya. Yang terakhir ini sering terjadi di dunia kerelawanan.

Situasi terakhir ini cukup sering saya alami. Di satu sisi saya bekerja secara professional di tempat yang di dalamnya banyak dihuni orang-orang berada; di sisi lain saya secara sukarela berhadapan dengan orang-orang dari kelas ekonomi dan pendidikan rendah. Posisi ini kerap menjadikan saya sebagai perantara dalam rantai bantuan. Salah satu peran saya di rantai ini adalah mencarikan orang tua asuh untuk anak-anak kurang mampu. Seharusnya anak-anak ini memang berhak mendapatkan bantuan, tapi faktanya tidak setiap anak memantaskan diri untuk menerima kebaikan.

Raminten (15), misalnya, adalah anak perempuan piatu yang tinggal bersama neneknya. Sang ayah telah menikah lagi dan telah memiliki anak. Dia mengutarakan niat melanjutkan pendidikan sekolah ke jenjang SMA, tapi tersendat dana. Ayah, nenek dan semua keluarganya menyerah untuk membiayai sekolahnya.

Mendapatkan anak yang tampak semangat sekolah seperti ini tentu menggembirakan bagi seorang guru seperti saya. Akan tetapi, saya yang juga masih bergelut dengan masalah finansial belum mampu untuk membantunya. Akhirnya, bersama istri, saya membicarakannya untuk mencarikan orang tua asuh.

Dalam waktu singkat, kami mendapatkannya, berbekal foto dan CV singkat Raminten. Donatur yang kaya pakai raya ini siap menanggung biaya sekolah Raminten hingga lulus. Dengan mantap sang donatur mengatakan supaya kami mencarikan sekolah yang layak baginya.

Setelah berdiskusi dengan cara saksama dan dalam tempo yang secukup-cukupnya dengan Raminten, kami bersepakat memilih sekolah asrama atau pesantren supaya dia lebih fokus belajar karena menurut pengakuannya sang nenek suka menyuruh dan galak setengah mati.

Kami bebaskan Raminten menunjuk pesantren yang dia inginkan. Tugas kami menanyakan informasi detil tentang aneka biaya plus uang saku bulanan yang layak baginya. Donatur pun ikut senang dan segera mentransfer uang setelah kami beri kabar.

Dua minggu di pesantren, Raminten mengontak kami sambil mengabarkan bahwa dia tidak betah.

Gawat!!!

Keputusan sepihak Raminten ini tentu merepotkan, terutama bagi kami untuk mengkomunikasikannya kepada sang pemberi bantuan. Ada perasaan tidak enak sudah merepotkannya, biduk yang hendak didayung tak sampai ke hilir. Akan tetapi, sang donatur yang baik hati mengatakan tidak masalah, yang penting Raminten tetap sekolah.

Akhirnya, Raminten melanjutkan sekolah dan kembali tinggal bersama sang nenek. Dia tetap mendapatkan uang saku bulanan dari sang donatur.

Sekitar satu semester berjalan, Raminten kembali menghubungi kami melalui keluarganya bahwa dia memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih kawin dengan pacarnya.

Lebih gawat kuadrat!!!

Padahal, saat sesi diskusi dengan kami sebelum memutuskan hendak sekolah di mana, saya sudah mencoba untuk meyakinkan dia bahwa jalan satu-satunya untuk mengubah kemelaratan adalah melalui pendidikan, dan jalan itu sudah terbuka. Kepadanya, saya paparkan strategi-stretegi ke depan supaya dia dapat kuliah. Akan tetapi, memang, tak setiap orang mau memantaskan diri untuk menerima nasib lebih baik.

Sekarang, Raminten sedang menanti kelahiran anak pertamanya dalam kemelaratan yang sudah biasa dia jalani dari kecil. Setali tiga uang, suaminya yang juga masih remaja tanpa ijazah yang pantas tak memiliki keahlian apa pun untuk bekerja dengan layak. Membanting tulang sebagai kuli serabutan, rizkinya pasti kalang-kabut.

Raminten memilih menyerah kepada kehendak hormon. Mimpinya untuk terus sekolah dan mengubah nasib takluk oleh fantasi bodong tentang cinta masa remaja. Raminten memilih untuk dikasihani ketimbang berusaha memantaskan diri untuk menerima bantuan. 

Lantik Wakapolri Syafruddin, Jokowi amankan suara Polri?
Soal tuntutan rotasi jabatan yang tak transparan, ini jawaban KPK
Orang Indonesia paling nggak bisa <i> nyusu </i>
Ma'ruf Amin perintahkan NU ancam Jokowi hanya tafsiran Mahfud MD
3 kali mogok dalam 12 hari, LRT Palembang 95 persen produk lokal
Legislator minta dalang pembakaran satu keluarga dihukum mati
Kubu Jokowi ingin Ma'ruf temui Rizieq di Mekkah
Ahok bakal terjun kampanye untuk Jokowi?
Ma'ruf Amin bapak ekonomi kaum tertindas
Realisasi investasi triwulan kedua turun 4,9 persen
Sandiaga Uno akui kekayaannya fluktuatif
Jangan khianati nenek moyang yang hadirkan kedamaian di bumi pertiwi
Rupiah masih terseok di atas Rp14.600
Cari istri perawan? di sini tempatnya
Sunan Kalijaga janji tak akan sebar hoaks demi menangkan Jokowi
Fetching news ...