Mengislamkan kasus Ahok

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengislamkan kasus Ahok

Kata islam pada judul bermakna sesuai akarnya dalam bahasa Arab yakni "pasrah" atau "menyerah". Dalam hal ini, semua proses hukum kasus penistaan agama oleh Basuki Tajahaja Purnama (Ahok) harus diserahkan sepenuhnya ke pengadilan.

Pengadilan adalah sistem yang sudah kita bangun dan sepakati untuk menyelesaikan sengketa atau konflik. Jika tidak percaya dengan sesuatu yang kita bangun sendiri, di situ jelas ada disfungsi—disfungsi pada institusi pengadilan atau disfungsi pada individu atau organisasi yang bersengketa.

Jika kita cermati, kasus yang awalnya tuduhan penistaan Surah Almaidah ayat 51 oleh Ahok sekarang sudah merembet ke mana-mana. Hawa yang kita rasakan bukan semata-mata menuntut keadilan oleh masing-masing pihak bersengketa, tetapi sudah pada kebencian yang kiranya tak akan pernah berujung pada rekonsiliasi.

Bukan pesimis bahwa kasus ini akan berakhir dengan islah, akan tetapi sebuah penyakit tentu tidak muncul tanpa gejala sebelumnya. Semakin ke sini, kasus Ahok ini sudah pada taraf bahaya; tak melulu fokus soal penodaan agama tapi berkembang dengan bumbu-bumbu isu rasial yang sangat menyengat.

Di awal-awal proses pengadilan, kubu pro GNPF-MUI melakukan perang opini dengan pengerahan massa besar-besaran dan unggahan-unggahan menyerang Ahok di media sosial. Kala proses pengadilan di meja hakim mulai adem, giliran Ahok menyulut dengan kasus Fitsa Hats-nya Habib Novel, seorang saksi dari pihak GNPF-MUI. Novel lalu marah dan mengancam melaporkan Ahok atas tuduhan mencemarkan nama baik.

Jika kedua belah pihak tidak ada yang “menyerah”, rekonsiliasi atau islah tidak akan pernah terwujud. Kasus ini bukan semata-mata soal perang Ahok melawan Habib Rizieq berikut pengikutnya masing-masing, tapi tentang keutuhan kita sebagai keluarga besar bangsa Indonesia.

Jangankan keluarga sendiri, tetangga ribut saja kita pasti terganggu. Jika dua anak tetangga berantam, anak-anak kita harus diselamatkan dengan menjauhkan dari mereka supaya tidak menonton—takut tertular.

Drama perseteruan Ahok-Rizieq sudah sampai pada tahap memuakkan, terus mengulang-ulang bahkan menambah konflik. Yang diinginkan kedua kubu ini sebenarnya apa? Konflik terus? Sampai kapan?

Seorang jeneral menejer salah satu rumah produksi terbesar di Indonesia pernah berujar kepada penulis jika dirinya tidak pernah menonton acara-acara hiburan yang diproduksi perusahaannya. Dia mengaku jika mempunyai waktu menyaksikan TV, yang dilihat hanya berita CNN dan discovery channel.

“Loh, kok bisa?”

“Kenapa tidak? Jika kamu tahu sedang meracik racun, masa kamu cicipi?” katanya santai.

Tontonan konflik yang disuguhkan Ahok melawan Rizieq cs, dan kemudian Novel, sudah mulai beracun, sangat rawan ditiru oleh generasi mendatang, tidak hanya oleh mereka yang mengidolakan mereka tetapi siapa pun yang pernah menyaksikan dramanya.

Oleh karena itu, mereka harus bertanggung jawab menyuguhkan akhir drama konflik tersebut dengan islah; jika tidak, para pemirsa (terutama generasi muda) akan mengalami cacat cara pandang terhadap persengketaan; yakni, apabila berkonflik, harus bertarung mati-matian tanpa perdamaian. Kedua, mereka akan meniru jika perbedaan ras bisa dijadikan bahan untuk berkonflik, ini lebih berbahaya lagi bagi NKRI.

Strategi jitu penjualan hewan kurban jelang Idul Adha
DPR batalkan pembangunan apartemen, gedung miring?
Utang luar negeri makin mengkhawatirkan
Ekonomi Indonesia bergantung pada Cina, berbahaya!
Bu Susi belum maksimal jalankan amanat UU Perlindungan Nelayan
Fetching news ...