Keajaiban Setya Novanto

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Keajaiban Setya Novanto

Karir Setya Novanto di gelanggang politk Indonesia dinilai oleh sejumlah kalangan bakal mandeg menyusul ditetapkannya sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP oleh KPK.

Pada Senin malam (17/07) KPK secara resmi telah menetapkan politisi Golkar itu sebagai tersangka lantaran diduga ikut mengatur proyek e-KTP mulai dari proses perencanaan dan pembasan anggaran hingga pengondisian pemenang lelang di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun anggaran 2011-2012.

KPK menyangka Setya Novanto melanggar Pasal 3 atau Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Namun, tak sedikit yang menyangsikan Novanto bakal menjalani hidup di bui karena sebelumnya dia sudah terejerat sejumlah masalah, tapi sampai sekarang masih tetap melenggang tanpa beban.

Meskipun ditetapkan tersangka, Setya Novanto masih percaya diri tidak bersalah. Bahkan, ada kemungkinan akan ajukan praperadilan, dan dia konon percaya akan menang.

Lebih hebat dari itu, pengurus DPP dan daerah Golkar juga tampak adem-ayem, seolah sudah sepakat Setya tidak bersalah dan pantas menduduki jabatan tertinggi di partai beringin tersebut. Padahal, dalam survei harian Kompas pada Juni 2017, misalnya, posisi Golkar hanya memperoleh 7.1 persen suara.
Terkait jabatannya di DPR, Novanto juga didesak mundur oleh banyak kalangan pegiat antikorupsi. Akan tetapi, pria yang namanya sempat tenar dalam kasus “Papa Minta Saham” itu sepertinya tak akan bergeser sampai ada keputusan tetap bahwa dirinya sudah menjadi terpidana.

Mengingat sepak terjang Setya yang seperti itu, status tersangka korupsi e-KTP sebetulnya tak terlalu mengejutkan. Pasalnya, selain terlibat skandal bagi-bagi saham Freeport, perkara hukum seperti ini bukan pertama kali dialaminya.

Pada 1999 nama Novanto pernah mencuat dalam kasus korupsi penjualan hak tagih (cessie) Bank Bali di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang merugikan negara ratusan miliar. Hasilnya, seperti yang diketahui bersama, Novanto tetap sumringah di kancah politik.

Selanjutnya, pada 2003, nama Novanto juga disebut-sebut menjadi bagian dari mafia beras. Novanto disebut terlibat penyelundupan beras Vietnam 60.000 ton, akan tetapi pajak impor yang dibayarnya cuma 9.000 ton. Jadi, kasus mark-up bukan perkara baru bagi Novanto.

Setya Novanto kembali meramaikan pemberitaan pada 2004, dalam kasus 400 ribu ton impor limbah beracun dari Singapura yang dibawa ke Batam. Lagi-lagi, perkara seperti ini bukan menjadi masalah baginya.

Saat ramai isu korupsi pembangunan sarana PON di Riau pada 2012, nama Setnov juga disebut-sebut turut terlibat. Akan tetapi, seperti biasa, dia lolos juga.

Kasus terakhir yang paling heboh tentu saja “Papa Minta Saham” pada 2015. Sempat mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPR RI, namun dalam waktu singkat dia berhasil mendepak Ade Komaruddin setelah berhasil memenangkan uji materi di MK. Jabatan ini didudukinya sampai sekarang, dan tampak aman-aman belaka.

Dengan rekam jejak seperti itu, sebagian orang pesimistis KPK mampu berbuat lebih terhadap Novanto meskipun dia yang saat kasus terjadi menjabat ketua Fraksi Partai Golkar (2009-2014) disebut menerima jatah suap terbesar, dengan nilai 11 persen dari total anggaran untuk proyek pengadaan e-KTP Rp 5,9 triliun. 

Angka 11 persen tersebut adalah “jatah” Golkar yang diberikan lewat Setya Novanto dan Andi Agustinus alias Andi Narogong sebesar Rp 574,2 miliar. Dalam surat dakwaan Andi, Setnov terlibat dari awal hingga proyek busuk itu tembus. Hampir separuh dari total proyek dijadikan bancakan oleh orang-orang rakus di DPR dan Kemendagri, tepatnya 49 persen atau mencapai Rp 2,558 triliun. Angka ini tentu sangat fantastis!

Setnov bersama kroni di Komisi II diduga membuat kesepakan-kesepakatan jahat tentang rencana penggunaan anggaran yang bombabtis tersebut.

Borok Setya yang terungkap kali ini pastinya yang terberat. Apabila dia mampu berkelit dari cengkeraman KPK, dia layak digelari politisi ajaib. Selebihnya, Setya akan menyumbang ketidakpercayaan masyarakat terhadap Golkar, dan selanjutnya terhadap politik itu sendiri.

Strategi jitu penjualan hewan kurban jelang Idul Adha
DPR batalkan pembangunan apartemen, gedung miring?
Utang luar negeri makin mengkhawatirkan
Ekonomi Indonesia bergantung pada Cina, berbahaya!
Bu Susi belum maksimal jalankan amanat UU Perlindungan Nelayan
Fetching news ...