Dua mantan tampak akur, sinyal koalisi?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Dua mantan tampak akur, sinyal koalisi? "Any coalition has its troubles, as every married man knows." - Arthur Hays Sulzberger

Pertemuan Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi sorotan utama pada perayaan dan upacara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta.

Selama 13 tahun terakhir, keduanya tidak pernah hadir bersama-sama dalam acara hari kemerdekaan di Istana. Momen terakhir keduanya bersama-sama merayakan HUT RI di Istana terjadi pada 2003 silam. Saat itu, Megawati masih menjabat sebagai presiden, dan SBY menjadi Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan.

Pada Maret 2004, SBY memutuskan mengundurkan diri dari kabinet gotong royong yang dipimpin Megawati, dengan alasan kewenangannya sebagai Menko Polhukam terlalu dicampuri oleh Megawati. Akan tetapi, alasan ini diduga sengaja dicari karena sesungguhnya SBY ingin bertarung pada Pilpres di tahun yang sama. Oleh karena itu, Megawati setengah hati menerima pengunduran diri SBY.

SBY dan Megawati pun berhadap-hadapan pada pemilihan presiden 2004. Ajang pilpres dimenangkan oleh SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Pada pilpres 2009, Ketua Umum PDI-P kembali mencoba peruntungan, namun lagi-lagi dikalahkan petahana yang berpasangan dengan Boediono.

Praktis selama dua periode atau 10 tahun SBY memimpin, Megawati sama sekali tidak pernah hadir dalam peringatan HUT RI di Istana. Padahal, undangan untuk para mantan presiden dan wakil presiden pasti dikirim setiap tahunnya.Biasanya, Megawati diwakilkan oleh suaminya Taufiq Kiemas dan anaknya Puan Maharani. Dia lebih memilih memimpin upacara di kantor DPP PDI-P di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Namun, setelah PDI-P berhasil mengantarkan Jokowi ke tampuk kekuasaan, Megawati bersedia kembali ke Istana pada perayaan HUT RI tahun 2015.

Sikap Megawati tersebut dibalas SBY, yang pada tahun 2015 dan 2016 silam, lebih memilih merayakan HUT RI di kampung halamannya di Pacitan. Baru akhirnya pada 17 Agustus 2017 kemarin, Megawati dan SBY bisa kembali reuni merayakan hari jadi Indonesia di kantor lamanya.

Sinyal koalisi?

Sepanjang pemerintahan Jokowi-JK, SBY tampak seperti mantan yang tak diharapkan, atau memang sengaja menjauh karena ingin “move on”. Tampak tak diharapkan eksistensinya, SBY kerap berperilaku laiknya sejumlah mantan pejabat tinggi lain yang dalam bahasa anak muda suka baper di medsos. Curahan hati SBY di media sosial pun kerap diladeni Jokowi. Maka, kita jumpai beberapa kali SBY-Jokowi harus berperang di medsos.

Akan tetapi, hubungan kaku SBY-Jokowi hanya akibat dari bekunya hubungan SBY dan Megawati. Kita paham bahwa mengumbar hubungan antagonistik dengan mantan presiden sangat tidak elok, karena ini mengindikasikan ada perang tak berkesudahan. 

SBY dan Jokowi mencoba mencairkan hubungan dengan menggelar pertemuan di Istana Negara beberapa waktu lalu. Keduanya mengajak serta anak sulung mereka. Rumor politik pun terus bergulir pascapertemuan ini, apakah pertemuan tersebut sebagai sinyal PDIP-Demokrat bakal berkoalisi setelah pada pertemuan antara SBY-Prabowo tidak menghasilkan kesepakatan koalisi.

Banyak yang menilai kedatangan SBY dan Agus Harimurti Istana Negara sebagi strategi senyap yang hendak diselipkan pendiri partai Demokrat tersebut. Strategi terebut adalah mengenalkan Agus sebagai calon pewaris prestasi politik SBY.

William H. Riker dalam bukunya Theory of Political Coalitions (1962) menyebutkan bahwa politisi yang rasional selalu mencoba untuk membangun koalisi dengan banyak partai untuk menang tetapi tidak terlalu besar. Riker membuat postulat bahwa para politisi sejatinya ingin memenangkan pertarungan dengan koalisi minal (minimal-size coalitions).

Apabila teori Riker benar, tampaknya PDIP akan berpikir panjang untuk menerima uluran tangan Demokrat. Selama ini partai berlambang bintang tersebut memang berada pada posisi abu-abu, dalam bahasa SBY “penyeimbang”. Oleh karena itu, PDIP sepertinya bakal merasa sudah cukup dengan koalisi yang ada saat ini, terutama untuk menghadapi Pilpres 2019. Demokrat hanya akan dijadikan cadangan apabila, koalisi yang selama ini terjalin berantakan di tengah jalan.

Namun, bagaimana pun, kedekatan hubungan SBY-Megawati harus kita pandang sebagai langkah yang baik untuk rekonsiliasi nasional. Orang boleh saja berbeda pandangan dan berkompetisi secara ketat, akan tetapi hubungan personal yang baik harus tetap dijaga.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...