Revisi doa Tifatul untuk Jokowi

REPORTED BY: Fathor Rasi

Revisi doa Tifatul untuk Jokowi

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Tifatul Sembiring meminta maaf atas ucapan doanya pada Sidang Tahunan MPR, Rabu (16/8/17) lalu. Kata maaf mantan Presiden PKS ini langsung menuai komentar positif dari para netizen, tak terkecuali dari kalangan Nahdlatul Ulama. 

Politisi PKS itu seakan merespon kritik keras publik dari berbagai kalangan. Baik akademisi, politisi hingga masyarakat umum sehingga dia 'merevisi' doanya dan meminta maaf melalui akun twitternya. Sikap Tifatul ini patut kita apresiasi karena mampu mengademkan iklim politik yang akhir-akhir ini cenderung memanas. 

"Saya doakan Pak Jokowi semoga sehat wal afiat, kuat memikul tugas negara yang berat. Mohon maaf kalau ada kata2 yg kurang berkenan...," tulisnya melalui akun Twiiter miliknya @tifsembiring, Minggu (20/8/2017).

Kata maaf Tifatul tersebut langsung diresponse intelektual muda Nahdlatul Ulama, Ahmad Sahal. Sikap Tifatul tersebut diapresiasi karena menurut Sahal tidak ada kata terlambat untuk mengucapkan kata maaf.

"Kalo kita berbuat salah, tak ada kata terlambat utk minta maaf...Mantap, Pak @tifsembiring :)," tulis Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika, Ahmad sahal melalui akun twitternya @sahaL_AS. 

Cermin pejabat yang baik

Meminta maaf dan mengakui kesalahan merupakan ciri pemimpin atau pejabat yang baik, karena banyak dari mereka tidak menyadari ketika berbuat salah. Lihat saja para koruptor sudah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. Mereka jarang menyadari kesalahannya, bahkan melempar senyum manis saat disorot mata kamera bak seorang artis. Mereka licin dan jago berkelit sehingga sulit mengucapkan kata maaf.

Meminta maaf adalah cermin kerendahan hati karena muncul dari kesadaran bahwa hidup adalah proses pembelajaran tiada akhir. Kesadaran yang muncul dari politisi PKS itu bisa saja muncul karena kemampuannya menangkap apa yang terjadi di sekelilingnya bahwa dia dalam sorotan dan kritik publik. 

Dengan sikap demikian, harkat dan martabat seseorang justru akan terangkat. Kata maaf yang diucapkan Tifatul bukan saja berarti kemenangan bagi Presiden Jokowi, melainkan kemenangan bersama seluruh rakyat Indonesia.

Doa politisi PKS melalui akun twitternya itu sudah benar karena tidak lagi menyasar fisik Presiden Jokowi sebagaimana sebelumnya yang cenderung horizontal dan bertele-tele dengan menyasar tubuh Presiden. Meski melalui twitter, muatan vertikal doanya itu lebih kental dengan menjadikan Tuhan sebagai sasaran utamanya, sehingga mampu mengademkan suasana. 

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...