Dua wanita "super" menodai gelarnya sendiri

REPORTED BY: Fathor Rasi

Dua wanita \ “Any woman who understands the problems of running a home will be nearer to understanding the problems of running a country.” – Margaret Thatcher

Dunia internasional maupun nasional dihebohkan oleh pemberitaan dua sosok wanita yang akhir-akhir ini sangat mendominasi di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Sebut saja Anniesa Hasibuan, desainer sekaligus tersangka kasus penipuan jamaah First Travel. Wajah bos First Travel tersebut sempat terpampang mengkilat di sampul majalah Forbes Indonesia (edisi April 2017, Volume 8).

Sebelum dicokok polisi, Wajah Anniesa disejajarkan dengan 3 wanita cerdas dan inspiratif di Tanah Air lainnya di majalah tersebut. Salah satunya adalah sosok perempuan cerdas di bidang ekonomi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia pengganti posisi Menkeu sebelumnya, Bambang Brodjonegoro.

Setelah kasus penipuan First Travel menggegerkan publik, majalah Forbes Indonesia akhirnya memutuskan untuk menarik gelar "Perempuan Inspiratif" yang disematkan kepada Anniesa Hasibuan. Akhirnya, kutukan dan bulian pung menghujam ke bos First Travel tersebut karena praktik bisnis yang dijalankannya dinilai tidak lagi etis dan culas. Gelar "Inspiring Woman" akhirnya lenyap seketika tersingkir oleh massifnya hujatan dan makian yang terus mengalir, khususnya di media sosial.

Berbeda dengan Anniesa Hasibuan yang pemberitaannya menggegerkan publik nasional, bungkamnya Aung San Suu Kyi terhadap tragedi kemanusiaan di Myanmar justru tak kalah heboh, bahkan mengundang "kutukan" dunia internasional. Gelar atau pun penghargaan Nobel Perdamaian yang diberikan kepadanya didesak untuk dicabut.

Aung San Suu Kyi adalah mantan oposisi pemerintah junta militer Myanmar. Atas perjuangannya yang dianggap prodemokrasi, Suu Kyi kemudian mendapat hadiah Nobel Perdamaian dari Komite Nobel pada 1991. Petinggi Myanmar itu sebelumnya dikenal sebagai pejuang demokrasi yang gigih di negaranya. Nama Aung San Suu Kyi semakin mendunia karena dianggap sebagai pejuang hak asasi rakyat Myanmar dan pejuang perdamaian melawan kesewenang-wenangan Junta Militer. Upayanya pun akhirnya berbuah manis, Suu Kyi pun menggondol Hadiah Nobel Perdamaian yang bergengsi itu.

Namun demikian, desakan untuk mencabut gelar kehormatan yang disandangnya itu semakin santer tak terbendung. Anehnya, di tengah tekanan dunia, termasuk Indonesia, Suu Kyi justru meminta RI untuk tidak ikut campur soal etnis Muslim Rohingya di Myanmar. Sikapnya tersebut justru memancing reaksi berbagai pihak, termasuk dua ormas besar Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Ketua Bidang Hukum PBNU Robikin Emhas mendesak agar penghargaan Nobel Perdamaian pada Aung San Suu Kyi dicabut karena dinilai hanya bersikap diam dan membiarkan terjadinya pembantaian atas Muslim Rohingya.

Selain NU, Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga meminta Pemerintah Republik Indonesia mengevaluasi kebijakan diplomasi yang diterapkan kepada Myanmar. Hal ini terkait dengan krisis kemanusiaan yang terjadi di kawasan itu. Bahkan, Muhammadiyah meminta komite hadiah nobel mencabut hadiah Nobel bagi pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi karena justru memperburuk keadaan.

Penipu super

Kelakuan Anniesa Hasibuan bersama suaminya, Andika Surachman dengan melakukan penipuan terhadap umat Islam melalui penggelapan dana jamaah umrah benar-benar membuat publik mengelus dada dan geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin dana jamaah yang mereka tabung untuk tujuan ibadah umroh di Tanah Suci ditilep dan dibelanjakan untuk "foya-foya". Mereka pun semakin kesal setelah mengetahui memiliki asset yang sangat berlimpah dengan nilai fantantis.

Bareskrim Polri mengungkapkan, dengan menipu 35 ribu calon jemaah jamaah umroh dari berbagai latar belakang profesi seperti ibu rumah tangga, tukang gorengan hingga tukang pijit, First Travel meraup Rp550 miliar. Modus penipuan lain yang dilakukan pasangan suami istri tersebut yaitu dengan menawarkan biaya tertentu utuk penyewaan pesawat khusus bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan ibadah umrah lebih dini sebesar Rp2,5 juta.

Wanita super "inhuman"

Gelar pejuang kemanusiaan seakan tidak pantas lagi disematkan kepada Aung San Suu Kyi. Bahkan kerap kita jumpai di berbagai aksi solidalitas bagi Muslim Rohingya mereka memeberikan gelar baru bagi San Suu Kyi, yaitu wanita yang tak berperikemanusian (The inhuman lady).  

Gelar baru "the inhuman lady" tersebut akhir-akhir ini dapat kita lihat di dinding facebook maupun media sosial lainnya sebagai letupan emosi dan bentuk keprihatinan terhadap perlakuan tidak manusiawi terdahap Muslim Rohingya.

Diamnya peraih nobel perdamaian tersebut telah membangkitkan emosi masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang agama. Aksi-aksi keprihatinan terhadap Muslim Rohingya meluas ke berbagai daerah baik di Jawa Tengah, di Jakarta saat Car Free Day di Jakarta. Keprihatinan juga muncul dari pemuka agama Budha melalui aksi solidaritas di Wihara Dharma Bhakti Petak 9 Tamansari, Jakarta Barat. 

Gelar "inspiring woman" dan "pejuang demokrasi dan kemanusiaan" yang disematkan kepada kedua wanita tersebut akhirnya menjadi noda, cela dan kutukan. Keduanya dianggap tidak berprikemanusiaan dengan menjadikan umat Islam sebagai korban, meski dengan level kekejaman yang berbeda dan melalui kasus yang berbeda.

Gelar yang menempel dalam diri seseorang kadang mendatangkan sanjungan dan pujian. Gelar juga menjadi suatu kebanggaan apabila dianggap sebagai amanah sehingga terus membenahi kelemahan diri agar mendatangkan manfaat baik bagi orang lain. Sebaliknya, ia menjadi kutukan apabila diterima begitu saja tanpa rasa tanggung jawab. 

Banyak sosok perempuan hebat yang namanya tetap harum karena mendatangkan manfaat bagi orang lain yaitu seperti Kartini, Margaret Thatcher, Bunda Teresa dan Benazir Bhutto. Mereka adalah para perempuan hebat pejuang kemanusiaan dan perdamaian yang telah berkontribusi dan menginspirasi dunia. Mereka adalah figur para perempuan tangguh yang patut dicontoh dan dibanggakan karena memegang peran penting dalam sejarah. Mereka mengubah dunia melalui pemikiran dan tindakan nyata, bahkan dengan mengorbankan harta, jiwa dan raga.

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...