Andai Malala temani Menlu Retno ke Myanmar

REPORTED BY: Fathor Rasi

Andai Malala temani Menlu Retno ke Myanmar "We don't need holy wars. What we need is tolerance, brotherhood and simple humanity."_Arlen Specter

Desakan Malala Yousafzai kepada pemimpin Myanamar untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap Muslim Rohingya telah mencuri perhatian dunia. Cuitan "Stop the violance" gadis Pakistan yang nyaris meregang nyawa ketika dihantam peluru milisi Taliban tersebut menjadi headline berbagai media online di berbagai belahan penjuru dunia, tak terkecuali media massa kenamaan seperti The Guardian CNN dan yang lainnya.

Melalui akun twitter @Malala. Aktivis HAM tersebut juga mengungkapkan kesedihan mendalam atas penderitaan yang dialami Muslim Rohingya. Terlebih ketika melihat bocah-bocah tak berdosa yang dibantai tak berdaya oleh serdadu Myamar, termasuk rumah mereka pun juga dibumihanguskan.

Kesedihan Malala semakin menjadi ketika mempertanyakan kemana Muslim Rohingya itu harus pergi, karena mereka tidak mungkin terus hidup dalam ancaman dan tekanan. Sementara mereka telah mendiami negara di kawasan ASEAN itu selama puluhan tahun. Bahkan, Malala mendesak pemerintah Myanmar untuk mengakui kewarganegaraan mereka, bukan lagi dianggap sebagai pendatang haram alias ilegal agar tidak terus diburu dan dipersekusi.

Di bagian akhir cuitannya itu, Malala mengetuk hati pejuang demokrasi dan kemanusiaan Myanmar, Aung San Suu Kyi untuk mengambil sikap untuk mengakhiri penderitaan Muslim Rohinya.

"Saya menunggu rekan peraih Nobel Aung San Suu Kyi untuk melakukan hal yang sama. Dunia saat ini sedang menunggu dan Muslim Rohingya sedang menunggu," harap Malala.

Upaya Menlu Retno

Getaran rasa kemanusiaan yang sama juga telihat dalam diri Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. Menlu telah berhasil menembus Myanmar, bahkan sudah menyampaikan pesan dan tawaran penyelesaian untuk mengakhiri nestapa dan derita Muslim Rohingya. 

Menlu juga sudah menuntaskan pertemuannya dengan Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal U Min Aung Hlaing. Bahkan, Menlu telah mengajukan upaya konkrit dengan menyampaikan proposal penyelesaian konflik di Rakhine State kepada State Counsellor Daw, Aung San Suu Kyi, di Nay Pyi Taw, Myanmar, Senin (4/9) kemarin.

Namun demikian, bukan berarti tugasnya selesai sampai di situ dan langsung bisa pulang ke Tanah Air. Menlu RI Retno Marsudi pada Selasa kemarin (5/9) justru langsung bertolak menuju Dhaka, Bangladesh dengan membawa tugas khusus dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengakhiri derita Muslim Rohingya. 

Kementerian Luar Negeri RI melalui akun twitter resminya  Kemlu RI @Portal_Kemlu_RI kemarin mengunggah video saat Menlu Retno Marsudi didampingi Dubes RI untuk Myanmar, Ito Sumardi. Keduanya tampak meninggalkan ruang VIP Bandara Yangon menuju pesawat yang hendak ditumpanginya menuju Dhaka.

Menlu Retno dijadwalkan akan bertemu dengan Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina. Berdasarkan laporan, dalam pertemuan itu mereka akan membahas nasib Muslim Rohingya yang hingga saat berduyun-duyun mengungsi menuju Bangladesh.

Berharap ditemani Malala

Baik Malala maupun Menlu Retno (mewakili RI) keduanya berada dalam semangat yang sama yaitu untuk menghentikan kekerasan (to stop violance) yang didorong oleh rasa kemanusiaan. Meredupnya nilai-nilai kemanusiaan di bumi Myanmar terbukti telah menjadikan para pemimpin di negara itu bermental buas dan ganas, mereka menjelma menjadi serigala pemangsa sesama. Menerkam dan mencabik sesama manusia (homo homini lupus).

Menlu RI Retno Marsudi memang sudah bertemu dengan Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian sekaligus pemimpin de facto Myanmar yang menjabat menteri luar negeri Myanmar dan konselor negara.

Namun demikian, dalam pertemuan itu, kita justru banyak mendengar pernyataan pemerintah RI yang diwakili Menlu Retno dengan meminta pemerintah Myanmar menghormati dan melindungi hak asasi Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine.

Sementara publik bahkan dunia terutama insan pers, dalam pertemuan itu, juga sangat menunggu pernyaataan Aung San Suu Kyi terkait nasib Muslim Rohingya. Sayangnya rekan peraih Nobel Perdamaian Malala itu terkesan irit bicara dan bersikap pasif.

Mungkin, Aung San Suu Kyi akan berbicara panjang lebar menyangkut nasib kaum minoritas Muslim Rohingya bila Menlu Retno ditemani pejuang HAM muda, Malala Yousafzai yang pernyataanya menjadi headline di berbagai media massa internasional. 

Andai saja Menlu Retno ditemani pejuang HAM muda peraih Nobel Perdamaian yang juga rekan Aung San Suu Kyi itu...

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...