Keadilan di mata Alquran

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Keadilan di mata Alquran “Allah meninggikan langit dan meletakkan neraca keadilan. (Arrahman, 55: 7)

Keadilan menjadi salah satu diskursus penting dalam Alquran. Kitab Suci ini mendudukkan keadilan sebagai salah satu misi utama diutusnya para rasul (57:25).

Islam mengajarkan agar keadilan dapat diejawantahkan dalam setiap waktu dan kesempatan karena tegaknya keadilan akan melahirkan konsekwensi logis berupa terciptanya sebuah tatanan masyarakat yang harmonis. Sebaliknya, lunturnya prinsip keadilan berakibat pada guncangnya sebuah tatanan sosial (social unrest).

Mufassir M. Quraish Shihab dalam “Wawasan al-Qur’an” (1998) mengatakan bahwa karena keadilan menjadi salah satu bahasan penting, Alquran tak cukup menggunakan satu kata untuk mengacu kepada keadilan. Dia menyebutkan bahwa Alquran setidaknya menggunakan tiga istilah untuk keadilan, yaitu: al-‘adl, al-qisth, dan al-mîzân.

Al-‘adl, berarti ‘sama’, memberi kesan adanya dua pihak atau lebih; karena jika hanya satu pihak, tidak akan terjadi ‘persamaan’. Kata ini yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan makna yang serupa.

Sementara itu, al-qisth berarti ‘bagian’ (yang wajar dan patut). Pembagian yang seimbang ini tidak mensyaratkan adanya ‘persamaan’.

Al-qisth lebih umum dari al-‘adl. Oleh karena itu, ketika Alquran menuntut seseorang berlaku adil terhadap dirinya, kata al-qisth yang digunakan. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak al-qisth (keadilan), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri.” (QS. Annisa’, 4: 135).

Kata ketiga, yaitu al-mîzân, berasal dari akar kata wazn (timbangan). Al-Mîzân dapat berarti ‘setimbang’ dan mengacu pula kepada ‘keadilan’. Alquran menegaskan alam raya ini ditegakkan atas dasar keadilan. Allah SWT berfirman, “Allah meninggikan langit dan meletakkan neraca (keadilan). (QS. Arrahman, 55: 7)

Keadilan bagi manusia

Terkait keadilan, Alquran selalu menegaskan bahwa objeknya adalah manusia secara umum, tanpa membedakan latar belakang, termasuk agamanya.

“Apabila kamu memutuskan perkara di antara manusia, maka hendaklah engkau memutuskannya dengan adil. ...” (QS. Annisa’, 4: 58.)

Misi keadilan ini ditegaskan Allah dengan mengatakan bahwa “Dan Tuhanmu tidak berlaku aniaya kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Fushshilat, 41: 46). Hal ini supaya setiap insan tidak mencoba melakukan upaya-upaya yang merupakan antitesis dari keadilan.

Keadilan sebagai bukti kedekatan dengan Allah

Pentingnya keadilan membuat Alquran menyandingkannya dengan ketakwaan (5:8). Orang yang berbuat adil berarti orang yang bertakwa. Orang yang tidak berbuat adil alias zalim berarti orang yang tidak bertakwa. Oleh karena itu, apabila ada ahli ibadah tetapi tidak dapat berlaku adil (kepada diri, keluarga, manusia, dan Tuhan), apa yang dia perbuat berarti sekadar aktivitas tanpa makna.

Selain itu, keadilan juga disandingkan dengan kebajikan. “Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat kebajikan (QS. Annahl, 16:90). Dengan demikian, segala perbuatan baik yang tidak disertai dengan landasan keadilan akan timpang.

Keadilan bagi pedagang adalah menunjukkan secara jujur mana produk yang berkualitas atau cacat, keadilan bagi pemimpin adalah pemberian kesempatan yang sama kepada warga dengan parameter yang terukur, bukan atas dasar kepentingan pribadinya, keadilan bagi bagi setiap orang adalah menyelaraskan antara kebutuhan bagi diri sendiri dan orang lain, dan seterusnya.

Ada kisah terkenal tentang keadilan Nabi Muhammad Saw. Diriwayatkan, pada masanya, seorang perempuan dari keluarga bangsawan Suku al-Makhzumiyah bernama Fatimah al-Makhzumiyah ketahuan mencuri emas. Pencurian ini membuat jajaran pembesar Suku al-Makhzumiyah malu. Apalagi, jerat hukum saat itu mustahil dihindari, karena Nabi Muhammad Saw sendiri yang menjadi hakim-nya.

Bayang-bayang Fatimah al-Makhzumiyah akan menerima hukum berat menghantui mereka karena akan menjadi aib klannya. Mereka kemudian meminta Usamah bin Zaid, anak dari Zaid bin Haritsah (anak angkat Nabi). Melalui Usamah, klan Makhzum berharap hukuman dapat dihindari. Akan tetapi, Nabi SAW lantas bersabda, “Rusaknya orang-orang terdahulu, itu karena ketika yang mencuri adalah orang terhormat, maka mereka melepaskannya dari jerat hukum. Tapi ketika yang mencuri orang lemah, maka mereka menjeratnya dengan hukuman. Saksikanlah! Andai Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (Bukhari dan Muslim)

Keadilan adalah sikap yang harus dilatih, dan latihan terbaik adalah adil kepada diri sendiri: memberikan makanan dan minuman yang baik, istirahat yang cukup, memberikan asupan pengetahuan yang memadai, mengakomodasi kebutuhan emosi, dan memperhatikan kehendaknya yang murni. Jika keadilan kepada diri sendiri sulit terlaksana, seseorang pasti kesulitan bersikap adil kepada yang lain.  

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...