Menyongsong Sumpah Pemuda
Penulis :
Penyunting :
946    0

Dokumentasi Rima

 Oleh: Haryono Suyono

Akhir minggu ini, tanggal 28 Oktober 2011, bangsa Indonesia akan memperingati Hari Sumpah Pemuda. Peringatan hari bersejarah itu diharapkan mengingatkan kita semua bahwa perjuangan bangsa ini telah dimulai oleh para sesepuh bangsa dengan tekad yang sangat mulia, satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Pengertian dari tekad itu juga dituangkan dalam Mukadimah UUD 1945 yang sangat terkenal bahwa bangsa ini didirikan untuk melindungi dan mencerdaskan kehidupan warganya.

Dalam konteks yang sangat mulia tersebut, pada malam peringatan Hari Sumpah Pemuda 2011, melalui acara Gemari Show di TVRI Pusat, akan digelar suatu acara khusus untuk mengajak seluruh elemen bangsa, tidak lagi mimpi hidup sejahtera tetapi bekerja keras membangun bangsa dengan menempatkan penduduk dan keluarga sebagai titik sentral pemberdayaan. Beberapa bupati, antara lain Bupati Solok yang akhir-akhir ini memberikan dukungan yang sangat kuat pada upaya pengembangan posdaya di seluruh nagari dan jorong-jorong di wilayahnya menyatakan siap tampil dalam acara yang selalu menarik tersebut.

Di samping Bupati Solok, acara Gemari Show yang dimulai pukul 20.30-22.00 WIB itu, akan mengundang para senior yang pernah menjadi pemimpin bangsa di masa lalu untuk menyaksikan bahwa keluarga Indonesia tidak perlu harus terus-menerus mimpi. Melalui peran bupati dan pejabat yang gigih di lapangan bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan. Rakyat yang partisipasinya tinggi, dengan kepemimpinan yang tegas dan terarah bisa bergerak maju dan menang.

Kemenangan yang ditunjukkan oleh Bupati Solok di Sumatera Barat, Bupati Boalemo di Gorontalo, Bupati Bantul di Yogyakarta dan banyak bupati lainnya, terutama yang telah bekerja keras membangun posdaya di pedesaan, karena partisipasi masyarakat yang kuat, mau bekerja keras dan cerdas serta mendapat pendampingan yang sangat simpatik. Arahan dan fasilitasi para pemimpin formal seperti bupati dan aparat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang peduli dan memberi perhatian kepada keluarga di pedesaan sungguh merupakan angin segar yang membesarkan hati rakyat. Selain itu, mampu meningkatkan gairah pembangunan yang orientasinya adalah manusia, yakni merangsang masyarakat membangun keluarga sejahtera yang bersatu dalam satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, sesuai cita-cita pendahulu bangsa yang kita cintai.

Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 2011, bahkan jauh hari sebelumnya, dalam suatu arahan yang sangat tegas, Bupati Solok Drs Syamsu Rahim MM mengharapkan semua kegiatan pembangunan diarahkan untuk membantu keluarga di nagari dan jorong-jorong agar rakyat miskin yang selama ini selalu bermimpi atau diajak bermimpi para pemimpinnya untuk menyongsong masa depan yang adil dan makmur. Mereka tidak lagi mendengar 'bahasa' yang artinya sudah jelas, tetapi diberi jalan yang mulus dan disertai pendampingan aparat agar memudahkan rakyat yang lemah, tidak dipermainkan oleh siapa pun yang menghambat kemajuan.

Diserukannya agar para pendamping, aparat SKPD, ikhlas menunjukkan jalan yang jelas dan mudah diakses, bukan justru mempersulit kelancaran usaha yang sedang dilakukan rakyat banyak. Dengan cara itu, seruan sakral, 'satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa' benar-benar menjadi alat pemersatu bangsa yang bhineka tunggal ika ini.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Solok, Ibu Erlinda Syamsu Rahim, yang sama gigihnya menjadi seorang teladan karena dengan berani menyatakan bahwa dengan bergaul dekat dengan keluarga di pedesaan, maka keinginan dan kebutuhan rakyat dapat diketahui dengan pasti. Karena itu, Ibu Erlinda tidak segan-segan membawa para pimpinan nagari dan jorong-jorong mengadakan peninjauan lapangan di berbagai daerah yang telah berhasil mengembangkan posdaya sebagai forum silaturahmi keluarga desa membangun keluarganya.

Bukan hanya mimpi, di daerah perkotaan tampaknya semangat yang sama masih juga bisa digerakkan. Setiap minggu Ibu Tatiek Fauzi Bowo, Ketua Tim Penggerak PKK DKI Jakarta, mengadakan kegiatan peninjauan ke tingkat RW dan kelurahan di daerahnya. Dalam acara yang digelar secara terbuka tanpa upacara yang berlebihan, Ibu Tatiek yang merakyat itu sekaligus mewakili Gubernur DKI Jakarta menyapa dan memberikan apresiasi karya nyata rakyat yang hidup berhimpitan di kampung-kampung padat di Jakarta. Pada setiap peninjauan dilakukan pengecekan kegiatan PKK pada tingkat Dasawisma dan pengembangan Forum Komunikasi Pemberdayaan Keluarga (Rukodaya) atau di tempat lain disebut Posdaya, pada setiap RW atau RT yang dibentuk oleh masyarakat bersama dosen atau mahasiswa pendamping yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta.

Upaya melibatkan para dosen dan mahasiswa pendamping tersebut, sekaligus merupakan undangan agar para calon pemimpin bangsa tidak saja berada dalam suasana 'mimpi' yang indah, tetapi langsung melihat bagaimana mengajak dan memberi kesempatan kepada rakyat banyak untuk berani ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Dengan dorongan tersebut, setiap keluarga di kelurahan, RW dan RT, tidak harus menunggu perintah aparat Pemda, tetapi dapat mengambil prakarsa membangun keluarga dan lingkungannya yang nyaman, bersih dan damai untuk memelihara persatuan dan kesatuan yang diidamkan para pemuda sesepuh bangsa.

Para senior sebagai nara sumber akan menyaksikan bahwa rakyat tidak mimpi untuk menggerakkan keluarga muda sebagai penerus pelaku sumpah pada tahun 1928, yang sanggup bekerja keras membangun bangsa. Tontonan ini diharapkan memberi semangat agar anak muda bangsa bisa menjadi penggerak masyarakat untuk bangkit dan bersatu, satu bangsa dan satu bahasa, membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan dan kebodohan untuk bangkit menjadi bangsa yang tegar, berkualitas, maju dan mandiri. Insya Allah. ***

_____________________________

Penulis adalah mantan Menko Kesra dan Taskin.

Sumber: http://www.suarakarya-online.com