Calon Anggota KPU Temui Anggota DPR Jelang Uji Kelayakan, Abdul Malik Haramain Anggap Itu Biasa
Penulis :
Penyunting :
1000    0

Dokumentasi Rima

JAKARTA, RIMANEWS - Jelang uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Sejumlah calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) menemui sejumlah anggota Komisi II DPR. Ironisnya, lembaga legislatif itu menganggap biasa pertemuan tersebut.

"Itu (pertemuan) biasa. Karena sebagian besar calon anggota KPU sudah kenal sebelumnya," kata Anggota Komisi II DPR, Abdul Malik Haramain, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (6/3/2012).

Malik berterus terang bahwa dirinya memang dihubungi calon anggota KPU dan Bawaslu. Beberapa dari mereka ada yang mengirimkan pesan pendek (SMS) atau mengajak ketemu.

Menurut politisi PKB itu, isi pesan yang dikirimkan hanya meminta doa restu. "Ketemunya ya sambil minum kopi. Ada yang ketemu di Senayan juga," ujar dia. Baginya, pertemuan tersebut tidak ada masalah. Malik berdalih isi pembicaraan hanya mendiskusikan bagaimana Pemilu kedepannya. Sebaliknya, dia malah berharap bisa bertemu seluruh para calon anggota KPU dan Bawaslu. Dengan begitu, dia dapat mengenal calon anggota KPU dan Bawaslu lebih dekat.

Malik membantah bila pertemuan itu dilakukan menjelang pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan terhadap para calon yang rencananya digelar pada 19 Maret mendatang.

Dia menyatakan, pertemuan tersebut dilakukan sebelum Tim Seleksi (Timsel) KPU-Bawaslu memilih sebanyak 14 calon anggota KPU dan 10 calon anggota Bawaslu.

Namun, Malik membenarkan bila beberapa calon yang menghubunginya ada yang diloloskan Timsel KPU-Bawaslu. "Bahkan, ada dari calon yang menghubungi sebelum mendaftar ke Timsel," tuturnya.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa tidak deal-deal politik dalam pertemuan tersebut. Dirinya hanya berdiskusi dan berdebat soal Pemilu. Dalam memilih para calon anggota KPU dan Bawaslu, PKB akan mengutamakan moralitas dan integritas.

"Mereka yang menghubungi ada yang minta doa restu dan ada yang minta dukungan. Satu atau dua nama kami anggap sudah 'clear'. Tapi, maaf saya tidak bisa sebutkan namanya karena tidak enak," imbuhnya.

Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI), Iberamsjah, menilai tidak etis pertemuan antara anggota Komisi II DPR dengan para calon anggota KPU dan Bawaslu menjelang pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan.

Sebab, secara tidak langsung tindakan itu berpotensi menyebabkan kompetisi yang tidak fair. "Ini sama saja menggadaikan diri sendiri," tegas dia.

Akademisi itu merasa tidak percaya bila pertemuan tidak membicarakan deal-deal politik. "Bohong kalau mereka (DPR) bilang tidak ada deal-deal politik," imbuhnya.

Iberamsjah mempertanyakan integritas dan independensi para calon anggota KPU dan Bawaslu yang menghubungi dan mengajak bertemu anggota DPR. Dia pesimistis calon seperti itu dapat menyelenggarakan Pemilu yang bebas kepentingan.

"Ini (pertemuan) tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Harus segera dibenahi," ungkapnya.[ian/okz]

Jokowi Belum Presiden Terpilih -dibaca 2710 kali