Lagi, Represifitas Aparat Kepolisian Terhadap Mahasiswa
Penulis :
Penyunting :
1169    0

Dokumentasi Rima

Bumi Jogjakarta kembali menangis dan menorehkan air mata melihat para aktivis mahasiswa yang memperjuangkan nasib rakyat kecil ditindas dan didiskrimanasi oleh aparat kepolisian. Kampus putih UIN Sunan Kalijaga menjadi saksi bisu atas kejadian itu. Di mana para aktivis mahasiswa diinjak, dilempar batu dan dipukuli dengan seenaknya oleh aparat kepolisian. Tidak ada yang salah dari para aktivis itu. Mereka hanya meneriakkan kebenaran akan sebuah realitas, yaitu menolak kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM pada awal bulan April 2012.

Inilah kesaksian saya, sebagai bagian dari mereka yang juga ikut andil dalam demonstrasi bersejarah itu.

Saat itu, pukul 09.00 WIB, suasana kampus UIN Sunan Kalijaga mulai ramai dipadati oleh para mahasiswa yang ingin berkuliah. Namun diantara kesibukan mahasiswa itu, ada sekelompok massa aksi yang sedang menunggu kedatangan para aktivis. Mereka adalah segerombolan mahasiswa yang tergabung dari beberapa aliansi organisasi. Diantaranya, PC PMII DIY, Forum BEM DIY, Sebumi, Pembebasan, FAM-J, PRD, LMND, Perempuan Mahardika, SMI, dan organisasi yang lain. Para demonstran itu bernama Aliansi Rakyat Menggugat (ARM).

Setelah massa demonstran berkumpul semua dan kibaran bendera mulai dijunjung ke atas, massa demonstran mulai bergerak menuju pertigaan revolusi UIN Sunan Kalijaga. Dengan semangat yang membara, seluruh massa aksi berteriak dan menyanyikan yel-yel revolusi. Setiap massa aksi membawa tuntutan yang bertuliskan menolak terhadap kenaikan BBM. Ya, demonstrasi ini memang bertujuan untuk menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Menariknya, demonstrasi ini ditemani oleh boneka babi besar yang bertuliskan Si-Babi-Yono.

Tiba dilokasi pertigaan revolusi UIN Sunan Kalijaga, ratusan aparat kepolisian sudah berjaga ketat dengan membawa gas air mata, water cannon, dan perangkat keamanan yang lain. Seakan polisi akan menghadapi para teroris. Sungguh keterlaluan. Tapi, para demonstran tak pernah getir, tak pernah bergeming. Mereka tetap melanjutkan niatnya untuk demonstrasi.

Dibawah terik matahari, masing-masing perwakilan organisasi menyampaikan pandangannya terhadap kebijakan pemerintah, baik terkait kenaikan BBM, prilaku elit politik, kondisi bangsa dan kebijakan pemerintah yang lain. Sekitar dua jam para aktivis menyampaikan orasinya. Tiba-tiba, di saat para demonstran membakar boneka babi besar, sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah, spontan aparat kepolisian langsung menembakkan water canon ke arah demonstran. Saat itu juga, massa demonstran menghindar. Belum selesai disitu, para aparat kepolisian langsung menyerang mahasiswa dan memaksa demonstran untuk mundur dan membubarkan diri.

Dalam kondisi ini, jelas yang mengawali kekerasan terlebih dahulu adalah aparat kepolisian. Sehingga, massa demonstran melawan sebagai bentuk protes karena hak konstitusionalnya sebagai warga negara untuk menyampaikan aspirasi dilanggar. Akhirnya, bentrok antara polisi dan massa demonstran tidak bisa dihindari.

Entah harus bagaimana saya menyampaikannya, yang jelas kondisi di lapangan saat itu sungguh memprihatinkan. Massa demonstran dengan barang seadanya (batu) melawan amukan aparat kepolisian yang menembaki massa demonstran dengan gas air mata. Ah, siapa yang tidak akan melawan di saat kondisi seperti itu. Anak kecil pun akan melawan di saat ada seseorang yang mencoba membahayakan terhadap dirinya. Tapi, lagi-lagi mahasiswa yang disalahkan.

Dengan brutalnya aparat kepolisian tetap menyerang massa demonstran, begitu pula massa demonstran. Batu melayang kencang dari setiap penjuru. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang awalnya tidak ikut, meleburkan diri di tengah kerumunan massa, sebagai bentuk solidiritas sesama mahasiswa. Kampus UIN Sunan Kalijaga tiba-tiba sesak dengan kerumunan massa.

Serangan demi serangan terus berlanjut. Massa demonstran tetap pada konsistensi yang telah di sepakati, yaitu tetap bertahan dan melanjutkan demonstrasi. Di saat sebagian pimpinan organisasi mengadakan evaluasi, tiba-tiba dari arah barat ratusan polisi menyerang dan masuk ke lokasi kampus timur, tepatnya di depan Gedung Multy Purpose UIN Sunan Kalijaga. Beberapa mahasiswa tertangkap oleh pihak polisi. Dengan mata kepala sendiri, saya melihat, mahasiswa dipukul, ditendang, dan diinjak-injak. Bahkan ada mahasiswa yang tangannya patah dan kepalanya bocor, sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Kurang lebih 30 menit pihak polisi menguasai kampus timur. Satu persatu mahasiswa dibawa dan ditangkap oleh pihak polisi. Mahasiswa dipukuli menggunakan tongkatnya dan ditendang, sampai darah yang keluar dari kaki, muka dan tangannya sangat banyak. Sungguh tidak manusiawi aparat kepolisian dalam menghadapi massa demonstran.

Sejauh ini, yang terdeteksi luka parah adalah Moh. Sujibto, kepalanya bocor dan kakinya luka parah akibat injakan dan tendangan aparat polisi. Asep Ilham Taufiq, tangan kirinya patah dan kepalanya bocor. Selanjutnya, Abul Choir, kepalanya bocor dan mukanya lebam akibat pukulan polisi. Mereka bertiga adalah kader muda PMII yang saat ini menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga. Saya yakin, bila diperiksa satu persatu seluruh massa demonstran, kemungkinan masih banyak lagi yang luka akibat represifitas aparat kepolisiaan ini.

Lantas dengan fakta-fakta diatas, masihkah kita percaya bahwa polisi adalah pengayom dan pelindung masyarakat sipil???

___________________________

Laporan Romel Masykuri, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Israel Bunuh 777 Jiwa -dibaca 1224 kali