Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Rabu pagi melemah sebesar 22 poin menjadi Rp9.157 dibanding sebelumnya diposisi Rp9.135 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Monex Investindo Futures, Johanes Ginting di Jakarta, Rabu mengatakan, dolar AS berbalik mendominasi mata uang dunia termasuk rupiah setelah sempat tertekan sejak awal pekan lalu.

"Penguatan dolar AS dipicu dari pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan bahwa bank sentral semakin enggan untuk meningkatkan program stimulus moneternya," kata dia.

Ia mengemukakan, The Fed tidak akan menambah jumlah pembelian aset atau yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif (QE) selama ekspansi ekonomi AS terus berkelanjutan dan laju inflasi tidak melambat di bawah target dua persen.

"Dolar AS diuntungkan oleh pemangkasan posisi para investor yang sebelumnya telah mengantisipasi untuk penambahan QE," kata dia.

Meski demikian, kata dia, mata uang beresiko dapat kembali menguat seiring dengan pengumuman kebijakan suku bunga dan beberapa data yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi seperti data indeks manufaktur, data produk domestik bruto (GDP) dan data produksi industri Jerman mencatatkan positif.

"Data-data terkait kondisi pertumbuhan ekonomi akan menjadi isu utama untuk kawasan Eropa dan akan menjadi penggerak nilai tukar beresiko," katanya.

Sementara, analis pasar uang Treasury Telkom Sigma, Rahadyo Anggoro menambahkan, dari dalam negeri, pelaku pasar uang masih optimis atas hasil penundaan harga bahan bakar minyak (BBM), kondisi itu akan memicu nilai tukar rupiah kembali menguat.

"Selain itu, laporan keuangan emiten yang mayoritas positif sesuai dengan ekspektasi," ujar dia.(yus/ant)