Nasional
Gara-gara Dolar Naik, Harga Kedelai di Jatim Juga Ikutan Naik
1.1K
DILIHAT
/
16:30
28 AGS 2013
Penulis

RIMANEWS - Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.(yus/seru)

Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.

- See more at: http://city.seruu.com/read/2013/08/28/180726/dolar-naik-kedelai-di-jatim-tembus-rp9000kg#sthash.jqwFJ3KZ.dpuf

Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.

- See more at: http://city.seruu.com/read/2013/08/28/180726/dolar-naik-kedelai-di-jatim-tembus-rp9000kg#sthash.jqwFJ3KZ.dpuf

Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.

- See more at: http://city.seruu.com/read/2013/08/28/180726/dolar-naik-kedelai-di-jatim-tembus-rp9000kg#sthash.jqwFJ3KZ.dpuf

Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.

- See more at: http://city.seruu.com/read/2013/08/28/180726/dolar-naik-kedelai-di-jatim-tembus-rp9000kg#sthash.jqwFJ3KZ.dpuf
KATA KUNCI : Ekonomi , Dolar , Jatim , Kedelai , Ekonomi , Dolar , Jatim , Kedelai , Ekonomi , Dolar , Jatim , Kedelai
Terbaru
27 Januari 2015 | 20:37
Moeldoko Ngaku Sempat Amankan KPK
27 Januari 2015 | 18:24
RAPBD DKI 2015 Diketok Rp73 T
Foto & Video
27 Januari 2015 | 23:30
Hukuman Mati Warga Australia
27 Januari 2015 | 21:59
Wayang Ngapak, Wayange Wong Kebumen
27 Januari 2015 | 20:57
Main Tablet Juga Belajar
27 Januari 2015 | 19:53
Pesona Wisata Gunung Api Bawah Laut
Berita Terkait
Ekonomi 27 Januari 2015 | 08:30
Ekonomi 22 Januari 2015 | 08:40
Ekonomi 16 Januari 2015 | 08:40
Berita Terpopuler
27 Oktober 2014 | 09:45
Soimah Tewas Terbakar
Berita Utama
Nasional 25 Januari 2015 | 19:30
Nasional 23 Januari 2015 | 13:03
Nasional 23 Januari 2015 | 10:24
Nasional 22 Januari 2015 | 14:53
Nasional 21 Januari 2015 | 16:52
Nasional 21 Januari 2015 | 14:53