Readup

Karyawan Google menggugat kesetaraan gender

REPORTED BY: Abdullatif Assalam

Karyawan Google menggugat kesetaraan gender

Karyawan senior Google membuat heboh dengan menulis sebuah “manifesto” yang menolak kesetaraan antara pria dan wanita. Menurut dia, wanita tidak cocok melakukan pekerjaan tertentu karena faktor biologis, termasuk di antaranya software engineer.

Manifesto berjudul “Google’s Ideological Echo Chamber” yang ditulis James Damore itu diterbitkan pada Jumat pekan lalu melalui mailing list internal. Awalnya, manifesto tersebut hanya viral di kalangan internal tapi sedikit demi sedikit bocor ke publik.

Damore, dalam menifesto setebal 10 halaman itu, mengungkapkan bahwa Google memiliki beberapa pandangan yang bias, termasuk soal gender, dan setiap diskusi mengenai persoalan tersebut pasti dibungkam.

“Secara umum, semua orang memiliki niat baik. Tapi, kita semua memiliki pandangan bias yang mungkin tidak disadari,” kata pria lulusan Universitas Harvard tersebut. “Untungnya, diskusi terbuka dan jujur dengan orang-orang yang tak sepaham dapat membuka mata kita dan membantu kita tumbuh. Itulah kenapa saya menulis dokumen ini."

Dalam manifestonya, Damore menegaskan bahwa kesenjangan representasi antara pria dan wanita di bidang teknologi, khususnya software engineering, terjadi karena keduanya memiliki perbedaan biologis yang alami.

Perbedaan biologis itu, lanjutnya, bukan tercipta karena kondisi sosial tapi terjadi lima hal. Di antaranya, perbedaan biologis terjadi secara universal di seluruh dunia, tak terbatas ruang dan waktu, dan orang-orang yang lahir sebagai laki-laki akan tetap berperilaku sebagai laki-laki meski sudah dikebiri sejak kecil dan dibesarkan sebagai wanita.

“Catatan, saya tidak mengatakan bahwa seluruh pria berbeda dengan semua wanita dengan cara demikian, atau bahwa perbedaan ini ‘adil’," kata Damore.

“Saya hanya mengatakan bahwa distribusi preferensi dan kemampuan antara pria dan wanita berbeda sebagian karena alasan biologis, dan bahwa perbedaan ini dapat menjelaskan kenapa kita tidak melihat keterwakilan wanita yang setara di bidang teknologi (software engineering) dan kepemimpinan.”

Damore kemudian menjelaskan perbedaan kepribadian antara wanita dan pria, versi dirinya.

Perasaan. Wanita rata-rata, katanya, lebih terbuka soal perasaan dan estetika daripada gagasan. Wanita memiliki minat yang lebih kuat terhadap manusia dibandingkan sesuatu.

Kedua hal itu menjelaskan kenapa wanita lebih memilih pekerjaan di sektor sosial dan seni yang berbungan dengan orang dan estetika. Sementara pria lebih banyak yang menyukai coding karena memerlukan sistemisasi, seperti menjadi software engineer.

Mudah setuju. Wanita juga lebih senang berada di tengah-tengah komunitas menjadi pusat perhatian. Mereka suka berteman dan tidak tegas serta mudah setuju.

Hal ini membuat wanita secara umum kesulitan menegosiasikan gaji, meminta kenaikan gaji, menyuarakan pendapat, dan memimpin.

Neurotisisme. Ini mungkin yang menyebabkan tingginya tingkat kecemasan yang dilaporkan para wanita di Googlegeist, survei karyawan Google, dan menjelaskan rendahnya partisipasi perempuan dalam pekerjaan dengan tingkat stres yang tinggi.

Ambisi

Kita selalu bertanya mengapa sedikit sekali wanita yang memegang jabatan sebagai pemimpin, tapi kita tak pernah bertanya mengapa ada banyak pria di posisi itu. Posisi-posisi tertentu membutuhkan jam kerja yang cukup panjang dan tingkat stres yang tinggi. Hal ini tak cocok bagi mereka yang menginginkan kehidupan seimbang.

Status adalah tolak ukur pertama yang menjadi penilaian bagi seorang pria. Hal ini mendorong mereka melakukan pekerjaan dengan gaji selangit meski harus mengorbankan banyak hal, hanya demi sebuah status.

Hal inilah yang juga membuat lebih banyak pria ketimbang wanita yang melakukan pekerjaan dengan bayaran tinggi tapi dengan tingkat stres luar biasa seperti di bidang teknologi. Para pria juga tak ragu memilih pekerjaan yang jarang diminati orang karena berbahaya seperti tambang dan petugas pemadam kebakaran. Hal tersebut menjelaskan kenapa 93 persen korban kematian terkait pekerjaan adalah pria.

Menurut Damore, banyak karyawan Google yang sependapat dengannya dan berterima kasih kepadanya karena telah berani menyuarakan isu sensitif yang mereka anggap penting ini. Mereka setuju, kata dia, tapi tak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya karena takut dipecat. Dan itulah yang dialami Damore.

Google pecat Damore

Google memecat Damore pada Senin. CEO Google Sundar Pichai mengatakan, beberapa bagian dalam manifestonya “melanggar Kode Etik kami dan melewati batas dengan mendukung stereotip gender yang berbahaya di kantor kami.”

Pemecatan ini sungguh aneh karena Executive Chairman Alphabet, perusahan induk Google, Eric Schmidt sendiri mengatakan bahwa salah satu nilai yang dipegang teguh Google sejak pendiriannya adalah “kebebasan berekspresi”.

Semua perusahaan memang berhak memecat setiap karyawannya, tapi tindakan Google dianggap banyak pihak sebagai serangan terhadap kebebasan berpendapat.

Tampaknya, pemberangusan terhadap orang atau pihak yang memiliki pandangan berbeda sedang menjadi tren di dunia.

Strategi jitu penjualan hewan kurban jelang Idul Adha
DPR batalkan pembangunan apartemen, gedung miring?
Utang luar negeri makin mengkhawatirkan
Ekonomi Indonesia bergantung pada Cina, berbahaya!
Bu Susi belum maksimal jalankan amanat UU Perlindungan Nelayan
Fetching news ...