Readup

Zainab binti Khuzaimah, ibunda kaum fakir miskin

REPORTED BY: Abdullatif Assalam

Zainab binti Khuzaimah, ibunda kaum fakir miskin "Tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta)." (HR Bukhari)

Nama Zainab binti Khuzaimah kurang familiar di telinga umat Muslim meski merupakan salah satu istri Rasulullah Saw yang memiliki julukan sebagai Ummul Masaakiin, atau ibunda kaum fakir miskin.

Gelar tersebut didapatkan Zainab karena dia dikenal sebagai wanita yang dermawan dan sangat menyayangi orang-orang fakir miskin, bahkan sejak zaman Jahiliyah.

Memiliki nama lengkap Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdullah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al Hilaliyah, Zainab merupakan salah satu dari sedikit orang yang pertama kali menerima cahaya Islam.

Dalam buku “35 Sirah Shahabiyah” karya Mahmud Al Mishri disebutkan bahwa Zainab terkenal sebagai orang yang rajin dalam beribadah, berpuasa, berzikir, dan selalu menyantuni orang-orang fakir miskin sebelum Muhammad.

Kasih sayang dan kepeduliannya kepada kaum papa semakin bertambah kuat setelah memeluk Islam, kata Al Mishri.

Hal itu terjadi, lanjut dia, karena ia menyaksikan secara langsung kasih sayang yang memancar deras dari hati Rasulullah Saw, yang selalu menekankan kepada umat Muslim untuk giat dalam bersedekah, bahkan hingga mencapai tahap itsar, atau mendahulukan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan sendiri.

“Ketika manusia menyongsong waktu pagi pada setiap hari, dua malaikat turun. Salah seorang malaikat berkata, ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak,’ Sedangkan malaikat yang lain berkata, ‘Ya Allah, berilah kebinasaan kepada orang yang enggan berinfak (pelit),’” sabda Rasul.

Zainab sering sekali mendengar hadits semacam itu sehingga jiwanya terus melambung dan hatinya lebih banyak mengharapkan kenikmatan abadi di surga daripada dunia. Oleh sebab itu, kata Al Mishri, Zainab tidak pernah menyisakan satu dirham atau satu dinar pun di dalam rumahnya. Semuanya habis dia sedekahkan.

Para ulama berselisih pendapat tentang siapa suami Zainab sebelum menikah dengan Rasul. Ada yang mengatakan bahwa suami pertama Zainab adalah Abdullah bin Jahsy. Tapi, ada pula yang mengatakan bahwa suami pertamanya adalah Thufail bin Harits.

Pakar ilmu nasab, Ali bin Abdul Aziz Al Jurjani menyatakan bahwa suami pertama Zainab adalah Thufail. Namun, Thufail kemudian menceraikannya karena tak kunjung memiliki anak saat hijrah ke Madinah. Untuk memuliakannya, saudara Thufail, Ubaid bin Harits Al Muththalibi menikahinya.

Ubaid terkenal sebagai penunggang kuda terbaik setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib. Dia gugur saat Perang Badar pada tahun ke-2 Hijriyah.

"Ketika suaminya gugur sebagai syahid di jalan Allah, Zainab menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dan rela dengna takdir yang diterimanya dari Allah ‘Azza wa Jalla,” kata Al Mishri.

“Zainab memiliki hati yang kuat dan penuh dengan keimanan, tawakal, keyakinan, dan kepercayaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Keyakinan Zainab bahwa Allah akan memberinya pengganti yang lebih baik dari suami-suami sebelumnya terbukti. Pada bulan Muharram tahun ke-4 Hijriyah, Rasul datang dan meminangnya.

Rasul mengagumi kebaikan hati dan sifat lemah lembut Zainab terhadap orang-orang miskin. Wajah Zainab tidak terlalu cantik, tapi bagi Rasul kecantikan hatinya lebih utama.

Saat menikah, Rasul memberikan mahar sebesar 400 dirham kepada Zainab. Berbagai hidangan disajikan saat acara walimah, yang tidak hanya dihadiri oleh kaum berada, tapi juga orang-orang fakir miskin.

Nabi Muhammad kemudian mendirikan sebuah rumah sederhana di samping kediaman Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar.

Namun, kehidupan Zainab bersama Rasul hanya berlangsung singkat. Karena sekitar tiga bulan setelah pernikahannya, ajal menjemput Zainab. Dia merupakan istri pertama Nabi yang meninggal dunia di Madinah. Kematian Zainab membuat Rasul bersedih karena mengingatkan beliau pada kematian Khadijah.

Ibunda kaum fakir miskin itu meninggal dunia tanpa meriwayatkan satu hadits pun dari Nabi sebagaimana disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dan Ibnu Jauzi.

“Barangkali, ini disebabkan karena Zainab sangat sibuk mengurus orang-orang miskin dan terlalu singkat masa kebersamaannya dengan Rasulullah Saw,” tulis Al Mishri.

Strategi jitu penjualan hewan kurban jelang Idul Adha
DPR batalkan pembangunan apartemen, gedung miring?
Utang luar negeri makin mengkhawatirkan
Ekonomi Indonesia bergantung pada Cina, berbahaya!
Bu Susi belum maksimal jalankan amanat UU Perlindungan Nelayan
Fetching news ...