Readup

Membuktikan keberadaan jiwa

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Membuktikan keberadaan jiwa "Thinking: the talking of the soul with itself." - Plato

Jiwa merupakan gambaran dari substansi yang secara zatnya nonmateri, tetapi terikat dengan materi dalam aktivitasnya.

Menurut Abdul Jabbar Rifa’i (dalam Durus fi al-Falsafah al-Islamiyyah, hlm. 363) Manusia bekerja menggunakan tangannya, melihat dengan matanya, mendengar dengan telinganya tetapi semuanya berdasarkan pengaturan yang dilakukan oleh jiwanya. Tangan, mata, telinga dan badan secara keseluruhan adalah aspek materi yang darinya jiwa—yang esensinya immateri—beraktivitas. Jiwa mengatur badan, sehingga kita dapat katakan bahwa jiwa terikat dalam aktivitasnya dengan badan yang bersifat materi.

Sementara itu, substansi jiwa yang esensinya bersifat immateri didapat melalui argumen berikut; kita menemukan pada jiwa manusia ada kekhususan (khassah) berupa pengetahuan. Seluruh bentuk pengetahuan bersifat immateri, berada atau hadir pada subjek yang mengetahui (‘alim). Kalau bukan karena immaterialitas subjek yaitu jiwa yang mengetahui dengan keterbebasannya dari potensialitas dan senantiasa aktual, keberadaan dan kehadiran pengetahuan pada jiwa tersebut tidak bisa terjadi. Pengetahuan yang immateri hadir pada sesuatu yang bersifat materi. Oleh karena itu, jiwa harus bersifat immateri, maka jiwa manusia yang rasional bersifat immateri.

Faktanya bahwa jiwa memiliki cara keberadaan yang rangkap, sebagai eksisten spiritual, sifat jiwa simpel dan imateri, di sisi lain sebagai entitas badaniah yang berkaitan dengan tubuh, jiwa itu terssun dan berubah. Hal ini telah membawa kerumitan serius, yang kemudian membuat beberapa filosof menolak keimaterialan jiwa dan mempercayai renkarnasi.

Jiwa memiliki 2 mode eksistensi, maksudnya, jiwa merupakan esensi entitas yang bersifat imaterial sekaligus entitas korporal/materi. Bagaimana kita bisa memahami 2 hal yang kontradiktif, inilah problem jiwa. Jiwa bersifat multipel dan berubah. Sesuai pada level materi, jiwa mengandung substansi materi, tetapi esensi dasarnya imateri. Jiwa berada dalam realitas gerak, dari korporeal menuju substansi imaterialitas murni. Kalo sudah berhasil mengaktual, bukan lagi disebut jiwa, tetapi akal.

Mulla Sadra (1572-1640), yang dikutip Khalid al-Walid dalam bukunya Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat (2012), mengajukan sejumlah argumen tentang keberadaan jiwa:

Wujud mumkin

Wujud mumkin adalah yang paling utama dan tidak adanya kesia-siaan dalam penciptaan wujud mumkin (imkan al-asryaf wa ‘adam abatsiah Khalq Al-Mumkinat). Dengan argumentasi ini, Sadra ingin menunjukkan bahwa Allah menciptakan makhluknya dari zat yang paling utama dan sempurna.

Zat utama tersebut adalah karena kedekatannnya dengan sumber penciptaan, sehingga kualitas dirinya tidak terbatas. Zat berikutnya memiliki kesamaan dengan zat yang pertama dalam kesempurnaan, meskipun secara kualitas berada di bawah tingkat yang pertama dan demikian seterusnya, sampai pada tingkat yang paling rendah, yaitu wujud mumkin yang berada pada batasan aktualisasi potensi menjadi aktual dan memunculkan bentuk-bentuk kehidupan, serta memunculkan efek-efek instingtif yang menuntun makhluk tersebut dalam level kehidupannya untuk terus berlanjut pada tujuan utama kehidupannya. Wujud yang berada pada tingkat ini, yang mengeluarkan potensi, itulah yang disebut dengan jiwa.

Unsur-unsur materi yang terwujud hanya memiliki potensi reseptif untuk menerima jiwa. Proses aktualisasi potensi menjadi aksi merupakan proses proses penyempurnaan setiap bentuk wujud yang menunjukkan tidak adanya kesia-siaan dari setiap bentuk wujud dan hal ini hanya mungkin terjadi jika pada wujud mumkin tersebut terdapat elemen yang menggerakkan aktualisasi dan elemen tersebut tidak lain adalah jiwa. 

Munculnya efek dari materi (sudūr al-atsār ‘an al-anjsām)

Argumentasi ini didasarkan pada efek yang muncul dari forma-forma materi tanpa adanya intervesi luar maupun keinginan untuk menghadirkannya. Sebagai contoh adalah apa yang terjadi pada indera. Indera mempersepsi apa yang ada di sekitarnya dengan sendirinya, atau gerakan yang terjadi, perkembangan maupun pertumbuhan atau melahirkan jenis yang semisal dengan didinya. Bagi Śadrâ, hal ini tidak mungkin hadir dari materi, sekalipun materi pertama, karena materi utama hanyalah sebagai reseptif secara mutlak tanpa ada kemungkinan baginya untuk melakukan aktivitas apalagi mengeluarkan efek. Oleh karena itu, bagi Śadrâ, efek-efek yang terjadi pada bentuk materi pastilah berasal dari sesuatu yang lain selain dari materi dan itulah jiwa. (Khalid, 2012 hal 77).

Kehidupan adalah jiwa

Ketika kita menyaksikan berbagai makhluk memiliki indera dan mempersepsi gambaran sesuatu, kita mengetahui bahwa makhluk tersebut hidup. Indera dan kemampuan untuk mempersepsi objek berasal dari tiga kemungkinan; sumber utama, yaitu jiwa; kedua, fisik yang memiliki jiwa; ketiga, fisik.

Sadra menolak dua kemungkinan terakhir karena menurutnya, jika berasal dari fisik yang memiliki jiwa, bagaimana mungkin hal tersebut terjadi pada saat yang sama; fisik tidak lain merupakan objek yang dikendalikan jiwa. Sadra memberikan contoh perahu yang memberikan manfaat tertentu, tetapi manfaaat tersebut sangat bergantung kepada kehadiran bentuk lain, yaitu pendayung.

Dengan demikian, menurut Sadra, forma fisik tertentu untuk dapat menghasilkan efek memerlukan bentuk yang lain selain dari dirinya, dan demikian terjadi seterusnya.

Oleh: Fikriyah Rasyidi, alumnus magister filsafat Islam Universitas Paramadina 

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...