Readup

Menyelami makna kebahagiaan

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Menyelami makna kebahagiaan "Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony." - Mahatma Gandhi

Kebahagiaan secara ontologi dan epistemologi adalah esensi yang secara alami dicari manusia. Kebahagiaan adalah wujud (eksistensi), maka semakin tinggi dan mendekati sumber wujud, semakin bahagia pula diri kita. Wujud itu tidak lain merupakan kebaikan dan kebahagiaan.

Sebagian besar pemikir klasik mengatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan segala sesuatu, seperti halnya Epicurus (341–270 SM) mengatakan bahwa tujuan ahir hidup adalah kebahagiaan. Para filosof sebelum Aristoteles percaya bahwa kebahagiaan hanya dapat ditemukan dalam kesempurnaan jiwa. Mereka mempertahankan bahwa kebahagiaan adalah realisasi kebajikan seperti kebijaksanaan, keberanian, kesucian, keadilan, dan lain sebagainya. Aliran Hedonis percaya bahwa kebahagiaan adalah kebaikan yang diinginkan dan didapatkan melalui kesenangan sensual. Penganut aliran paripatetik seperti Aristoteles (384-322 SM) menganggap kebahagiaan sebagai kebijakan hidup atau sebagai tindakan yang sesuai dengan kebajikan tertinggi,  yaitu kebijaksanaan teoretis. Dia juga mengatakan bahwa hal terpenting dari kehidupan manusia adalah kebahagiaan (lihat "The Nicomachean Ethics").

Menurut Ibn Miskawaih (dalam Tahdzibul Akhlaq) mengatakan bahwa kebahagiaan terealisasi ketika suatu fakultas aktual berada pada level kesempurnaannya, dan kebahagiaan itu sendiri adalah sempurnanya suatu kebaikan. Sementara itu, Al-farabi berpendapat bahwa tujuan utama dari etika adalah mendapatkan kebahagiaan. Kesempurnaan yang paling utama adalah kebaikan dan kebaikan tertinggi adalah kebahagiaan. Maka, semakin banyak manusia mencoba untuk mencapai kebaikan, semakin berpeluang dia menemukannya.

Ibn Sina percaya bahwa dalam proses kesempurnaan makhluk dan dalam kenaikannya—dari benda mati menjadi jiwa vegetatif lalu menjadi jiwa hewani dan jiwa manusia—adalah sebuah proses evolusi. Dia percaya bahwa manusia berada pada titik terakhir kesempurnaan di dunia material. Manusia memiliki keunggulan yang ditemukan dari makhluk-makhluk yang lebih rendah, ditambah fakultas berfikir, kemudian manusia berevolusi lagi untuk menjadi jiwa yang lebih jernih. Maqam ini menciptakan tingkat kesempurnaan yang dialami oleh para nabi terdahulu. Setelah maqam ini, kesempurnaan meningkat dan manusia mencapai maqam Akal Aktif dan menerima pesan dari Tuhan. Jika manusia melampaui maqam utusan, dia akan mencapai maqam Akal Murni. Di maqam Akal murni ada derajat yang berbeda. Setiap orang dapat mencapai salah satu derajat ini; tergantung pada kemampuan dan aspirasinya serta kemurahhatian dari Allah.

Achmad Mubarok dalam “Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern: Jiwa dalam Alquran” mengatakan bahwa sejarah mencatat bahwa manusia selalu berusaha mencari kebahagiaan. Upaya tersebut ditempuh oleh sebagian orang dengan cara yang bersifat mistik, ada pula yang menempuhnya dengan jalan rasional/konsepsional (hlm. 13).

Eksisten adalah realitas yang memiliki analogi dan perbandingan dengan teori gradasi wujud, menurut Mulla Sadra dalam “Asfar al-Arba’ah”. Dia menganggap ekistensi dan persepsi eksistensi sebagai kebaikan dan kebahagiaan. Jadi kebaikan dan kebahagiaan juga realitas yang memiliki analogi dan perbandingan dengan gradasi wujud. Sadra menekankan bahwa persepsi keberadaan dan penyatuan jiwa rasional dengan akal aktif membuat manusia bahagia. Walaupun pandangannya berdasarkan prinsip-prinsip filsafatnya sendiri, kita dapat menemukan banyak persamaan antara pandangannya dan apa yang didiskusikannya dalam subjek etika dan teks keagamaan.

Manusia dalam perspektif Mulla Sadra adalah keberadaan rasional (wujud ta’aquli) dengan wujud mutlak, yang merentang alamnya bersama kosmos, dan di atas kosmos.

Ibn Sina sebagai pemikir besar dalam aliran paripatetik menggunakan pendekatan rasional dan metode argumentatif sebagai dasar pemikirannya (dalam A.F. al-Ahwani, Ibn Sina, hal. 17). Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak didapat dari hal-hal material, tetapi didapat dari kesadaran dan pengetahuan. Maka, kebahagiaan akan didapat bila seseorang mampu mengaktualkan potensi rasionalitasnya; teoritical reason dan practical reason, akan tetapi menurut Śadrâ, kebahagiaan akan terwujud apabila manusia dapat mengaktualkan semua potensi ilahiah yang ada dalam dirinya.

Alquran menyebutkan bahwa kualitas dunia yang akan datang itu lebih baik dan lebih kekal (87:17). Para filosof paripatetik seperti Ibn Sina percaya bahwa kesenangan intelektual adalah kenikmatan tertinggi karena kesenangan itu original dan permanen, tidak seperti kesenangan materi yang dangkal, tidak murni, sementara, dan duniawi. Kesenangan eksistensial itu lebih tinggi daripada kesenangan aksidental, intelektual daripada sensual, aktif daripada pasif, murni daripada bukan murni, dalam daripada dangkal, dan divine daripada duniawi

Kebahagiaan bedasarkan moral dan agama

Jalaluddin Rakhmat, dalam “Meraih Kebahagiaan”, mengatakan bahwa kebahagiaan adalah kewajiban moral dan juga agama. Kita wajib bahagia berdasarkan perintah Tuhan. Berusaha hidup bahagia adalah mengemban misi mulia agama. Socrates mendiskusikan kebahagiaan di taman atau di pinggir jalan. Para muridnya melanjutkan wacana kebahagiaan itu dalam berbagai aliran sesuai dengan apa yang mereka tangkap dari gurunya. Plato menisbahkan pada Socrates bahwa kebahagiaan adalah anugerah Tuhan karena kita hidup dengan baik.

Apakah yang disebut baik? Eupraxia, kata Socrates, yang didefinisikan oleh Plato sebagai berfungsinya seluruh bagian jiwa secara harmonis. Nasehat Socrates yang menyiratkan bahwa kita bisa hidup bahagia dengan “mengikuti alam” telah ditafsirkan bermacam-macam. Mengikuti alam, kata Aristippus, adalah memenuhi tuntutan kesenangan jasmaniah kita. Mengikuti alam, kata kaum Stoik, ialah menekan kesenangan jasmaniah dan memuaskan akal kita. Mengikuti alam, kata Aristoteles, adalah menjalankan “fitrah” kemanusiaan kita (hlm 39).

Aristoteles menyebutkan syarat-sayarat yang diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan yang berlangsung lama: good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good friends, good money, and goodness. Hidup yang baik, kata Aristoteles, adalah hidup yang bahagia. Jadi, baik adalah bahagia. Tetapi ada banyak baik di dunia ini—turunannya baik, kesehatan baik, rupa baik, kekayaan baik. Apa hubungannya “baik-baik” yang lainnya itu dengan bahagia? Menurut Aristoteles, hidup yang bahagia adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua yang baik seperti kesehatan, kekayaan, persahabatan, pengetahuan, kebajikan (atau kemuliaan). Hal-hal yang baik itu adalah komponen kebahagiaan.

Upaya meraih kebahagiaan adalah proses terus-menerus untuk mengumpulkan semua kebaikan: kekayaan, kehormatan, kepandaian, kecantikan, persahabatan dan sebagainya yang diperlukan untuk menyempurnakan fitrah kemanusiaan dan memperkaya kehidupan. Untuk itu, resep pertama meraih kebahagiaan adalah menggunakan akal, satu-satunya kemampuan yang membedakan manusia dengan binatang. Petunjuk akal yang pertama, seperti dipahatkan pada kuil Appolo di Delphi, adalah made agan—jangan berlebihan. Kita harus meletakkan diri kita pada posisi tengah-tengah—golden mean. Kebaikan terletak di antara dua ekstrem. Di antara pengecut dan nekad ada keberanian. Di antara kebakhilan dan keborosan ada kedermawanan dan di antara rasa rendah diri dan kesombongan ada kerendahan hati. Di antara kerahasiaan dan keterbukaan ada kejujuran. Di antara pertengkaran dan rayuan ada persahabatan.

Kedua, akal dipergunakan untuk memilih. Setiap hari kita melakukan pilihan. Kita memilih yang benar. Dalam melakukan pilihan itu, kita bukan saja melihat data yang ada tetapi kemungkinan di masa depan. Seringkali yang kurang baik kita korbankan demi sesuatu yang lebih baik di amsa depan. Pilihan-pilihan itu dilakukan dengan menggunakan akal. Orang bijak, dengan menggunakan akalnya, akan menangguhkan kesenangan yang cepat demi kebahagiaan di masa depan.

Menurut Mullâ Śadrâ, Kebahagiaan menyerupai sukacita yang dimiliki realitas pertama dan merupakan kebahagiaan terdekat (kepada realitas pertama) karena esensinya dan esensi dari realitasnya. Hal ini sangat jelas bahwa kegembiraan para malaikat adalah karena persepsi cahaya mereka yang tingkatannya lebih tinggi dari kebahagiaan keledai, karena bentuk persepsi hewan berasal dari hubungan seksual dan makanan semata.[1]

Dalam Asfar, Mullâ Śadrâ mengatakan bahwa kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan lebih tinggi selama kita masih terikat pada ketubuhan, tetapi kita masih dapat mengetahuinya melalui penalaran dan demonstrasi. Kita hanya bisa memahami esensi kebahagiaan jika intelek yang merupakan fikiran dari mental universal terungkap. Pengetahuan tentang objek intelek dalam modalitas pertama wujud adalah sumber keberadaan di akhirat, Pengetahuan adalah benih (spiritual) penyaksian. Tabir antara kita dan objek intelek adalah karena kekurangan kebijaksanaan dan kebodohan, atau keasyikan dengan selainnya, seperti keterikatan pada tubuh, hal-hal yang berkaitan dengan semua indera eksternal yang tertanam dalam diri kita.

Ketika jiwa terhubung kepada objek intelek dengan memperoleh pengetahuan tentang realitas-Nya, maka fakultas intelektual siap untuk menerima bentuk intelektual dari realitas immaterial. Ketika kendala eksternal dihapus pada saat kematian—karena setelah terpisah dari tubuh orang yang memiliki pengetahuan tidak akan  berpaling arah menuju tubuh dan keasyikan darinya—hanya pengetahuan dari kebahagiaan intelektual yang menjadi penyebab dari memperoleh kebahagiaan dan akan menjadi bahagia karena disingkarkannya hambatan yakni keterkaitan pada tubuh yang telah berakhir pada saat kematian. Hal ini bertentangan dengan kesadaran kebahagiaan inderawi. Karena, tidak akan cukup untuk menjangkau dan merasakannya sebab ada hijab ragawi antara indera dan kebahagiaan inderawi. Pasalnya, ada penyempitan wujud kebahagiaan inderawi karena kelemahan (tubuh) dalam mencapainya, beberapa bagian mereka mati bagi yang lain, tubuh absen dari dirinya sendiri, karena tubuh tidak memiliki kehadiran dirinya sendiri, dan tidak ada kehadiran hal lain. Demikian pula hal-hal yang bersifat fisik yang terdapat pada tubuh seperti atribut. Itulah mengapa tubuh sebagai tubuh tidak memiliki kehidupan atau kesadaran.

Melalui kehidupan di dunia ini, potensialitas jiwa menjadi teraktualisasikan. Kematian sama sekali bukanlah suatu ketaksempurnaan. Mengingat, sebagaimana terungakap dalam ungkapan Rasul yang dikutip sebeulum ini, ia hanyalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Dalam istilah Mulla Sadra, kematian terjadi segera setelah jiwa mengaktualisasikan seluruh potensialitasnya. Karena tak lagi membutuhkan tubuh-jasmaniah, jiwa mencampakkannya demi terus menuju ke tahapan berikut eksistensinya.

Penulis: Fikriyah Rasyidi, pegiat pendidikan, founder Muslimsmart 

Dua amalan utama di bulan Muharam
Menjadikan Indonesia kiblat maritim dunia
4 golongan yang dicintai Allah
Menyatukan Soksi Golkar dengan Munas
Sektor ini raup Rp1.500 triliun per tahun, Anda tertarik?
Fetching news ...