Readup

Bumi Manusia bukan sekadar cinta Minke dan Annelies

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Bumi Manusia bukan sekadar cinta Minke dan Annelies Dengan menggaet aktor Iqbal Ramadhan sebagai pemeran utama Minke, Hanung mengatakan film ini hanya soal cinta Minke dan Annelies. Sontak peryataan ini membuat publik geram, terlebih penggemar karya Pramoedya Ananta Toer. Kenapa?

Berbicara mengenai kontroversi, tak akan terlepas dari kehidupan sehari-hari. Seperti yang belakang ini sedang hangat diperbincangkan yakni Film Bumi Manusia yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Film yang digadang-dagang menjadi salah satu film terbaik Indonesia ini diadaptasi dari buku karangan sastrawan terkenal Pramoedya Ananta Toer.  

Dengan menggaet aktor Iqbal Ramadhan sebagai pemeran utama Minke, Hanung mengatakan film ini hanya soal cinta Minke dan Annelies. Sontak peryataan ini membuat publik geram, terlebih penggemar karya Pramoedya Ananta Toer. Kenapa? 

Bumi Manusia merupakan buku pertama dari tetralogi Buru, karangan Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi tersebut lahir saat Pram sedang mendekam di pengasingan Pulau Buru. Buku yang mengambil latar belakang abad 18 ini dikemas secara detail dengan memainkan tokoh Minke yang merupakan keturunan Jawa atau Pribumi, Pram berkisah lewat tuturnya yang merdu dan bahasa klasiknya.

Lewat tokoh Minke Pram membawa kembali pembaca masuk kembali pembaca ke beberapa abad silam. Sosok Minke adalah laki-laki yang terpelajar. Meskipun berdarah Pribumi tapi Minke mampu membuat dirinya sama dengan para bangsawan asing seperti Belanda, Jepang.

Dengan kepintarannya, Minke melawan berbagai ketidakadilan yang terjadi di Bangsa dan orang-orang sekitarnya. Hogere Burger School (HBS) adalah sekolah yang pernah diduduki Minke setara tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Sekolah tersebut diisi oleh anak-anak ningrat dan bangsawan Belanda.

Dari pendidikan tersebutlah Minke memulai mempelajari dan mengikuti kebudayaan Eropa yang dibawa oleh kawan-kawannya. Ia mempelajari dan mendalami kebudayaan tersebut tanpa mengurangi budaya turunan dari ayah dan ibunya sendiri. Karena keingintahuannya terhadap budaya Eropa dan ingin membuat sebuah perubahan, Minke pun mengikuti kebudayaan tersebut secara mendalam, terlebih dari cara berpakaian seperti orang Belanda.

Minke dikenal sebagai pria yang memiliki kharisma tersendiri. Dalam kehidupannya, Minke banyak mengenal beberapa wanita dan menikahinya. Istri pertamanya Annelies merupakan seorang keturunan Belanda yang beribukan wanita Jawa yaitu Nyai Ontosoroh. Namun, takdir berkata lain, Minke harus ditinggalkan oleh sang istri di usia pernikahan mereka yang masih muda. 

Dalam buku ini, Pram mengajak kita kembali ke kisah di mana kehidupan dibeli dengan kekuasaan dan jabatan. Tidak hanya itu sikap Minke yang mau mengenal kebudayaan baru menggambarkan, bahwa perkembangan itu sejatinya telah terjadi di masa silam. Lewat keberanian diri Minke yang bisa berinteraksi dan membuka diri dengan bangsa asing, ia mampu membuat sebuah pergerakan untuk mengurangi ketidakadilan yang terjadi di Indonesia saat itu.

Sosok Minke diceritakan selain berkharisma, juga memiliki pemikiran yang cerdas dan kritis. Dengan keinginan yang kuat, Minke ingin membuat masyarakat bangsa Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan dan penderitaan. Berbagai macam ide dan usaha dilakukan Minke lewat tulisan yang dibuatnya dalam bentuk artikel yang dimuat di koran-koran Belanda.

Tak hanya melalui tulisan saja, Minke mulai memberanikan diri untuk melakukan beberapa kegiatan yang sifatnya membantu masyarakat untuk berani melawan penderitaan. Lewat cara-cara Minke melawan tindak kekerasan lewat tulisannya yang tajam dan kritis, dunia seakan-akan ditentang oleh berbagai macam buah pikiran Minke.

Beberapa bangsawan Belanda pun mendatangi Minke karena tulisan yang dibuatnya. Tak puas dengan karyanya yang dimuat di kooran milik Belanda, Minke pun mulai membangun sebuah percetakan koran bersama teman-temannya. Namun Minke tetap mendapatkan tempat terhormat di kalangan masyarakat, baik Pribumi ataupun Asing. Bumi Manusia lebih spesifik membahas mengenai kehidupan sang tokoh Minke.

Dari buku ini, sesungguhnya kita telah mengenal bahwa perkembangan zaman itu telah dimulai di abad ke-18. Dan tulisan merupakan alat mujarab untuk Minke dalam menentang ketidakadilan di Bangsanya sendiri. Tersirat makna dalam tulisan yang mujarab di era pergerakan pribumi ini bahwa untuk menentang ketidakadilan tidak melulu harus menggunakan fisik, namun juga bisa melalui pemikiran-pemikiran yang kritis yang ditorehkan dalam sebuah tulisan.

Fadli Zon ajak anggota parlemen lawan korupsi
BPN: Pindah ke Jateng terobosan brilian
Pimpinan DPR: HAM dan Demokrasi era Jokowi alami kemunduran
Saham Wallstret ditutup menguat sementara saham Eropa melemah
DPR RI kagumi perjuangan Azerbaijan raih kemerdekaan
DPR RI sambut baik kedatangan parlemen Kuwait
BPN pindah ke Jateng, ini kata Hanura
DPW Kalsel dukung Jokowi, PAN: Itu realita politik lokal
Prabowo perlu reuni 212 lagi jelang Pilpres 2019 jika ingin menang
Meluruskan cara pandang tentang pernikahan dan keluarga
Charta Politica: Pemindahan posko pemenangan BPN hanya psywar
Reforma Agraria era Jokowi dinilai di lajur yang benar
Markas BPN pindah, TKD: Apa urgensinya?
PAN akan sanksi DPD membelot ke kubu Jokowi
Cara Khabib Nurmagomedov habiskan 100 ribu dolar pertamanya
Fetching news ...