Readup

Kontestasi ideologi di era revolusi digital

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kontestasi ideologi di era revolusi digital

Hadir sebagai narasumber pada peluncuran dan diskusi ini, Redaktur Ahli Jurnal Maarif, Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D, Pengamat Media Sosial, Ismail Fahmi, Ph.D, serta Kontributor Jurnal Maarif, Yulianti Muthmainnah, MA. Diskusi dipandu oleh Mohammad Shofan, Pimpinan Redaksi Jurnal Maarif.

Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Muhammad Abdullah Darraz menyatakan bahwa masyarakat membutuhkan informasi dan pencerahan tentang tumbuhnya media sosial dan jaringan internet di Indonesia  yang menjadi faktor penting hadirnya identitas Islam dalam budaya populer, yang tak jarang menjadi alat penyebaran kebencian dan informasi hoaks.

“Yang seperti ini berpotensi merusak tatanan sosial masyarakat,” katanya dalam peluncuran Jurnal MAARIF dengan tema "Islam dan Media: Kontestasi Ideologi di Era Revolusi Digital" di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (01/10/2018).

Sementara itu, dalam pemaparannya, Airlangga Pribadi mengatakan bahwa media sosial menyediakan fasilitas untuk mengakses informasi, baik informasi pengetahuan agama, sosial, ekonomi, maupun politik. Sehingga, menurutnya, internet juga berfungsi sebagai mobile library, seperti e-book, journal, yang jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu buku.

“Namun ironisnya, perubahan dari media cetak ke internet tak berbanding lurus dengan tingginya minat baca pengguna medsos. Alih alih mereka membacanya, yang lebih sering dibaca justru facebook maupun twitter,“ katanya

Lebih jauh Airlangga mengatakan yang agak mengkhawatirkan di era digital adalah menguatnya populisme religius dan etnis ketika bertemu dengan isu politik.

“Perkembangan medsos akan semakin membesar dan massif jika memasuki pemilu karena rentan terhadap kapitalisasi agama untuk mendukung paslon tertentu."

Narasumber kedua, Ismail Fahmi mengingatkan bahwa gegap gempita narasi keagamaan populer membuat seseorang malas membaca buku. Terlebih lontaran pemikiran dalam medsos bersifat fragmentatif, hanya sekadar cuplikan. Di sisi lain, gagasan-gagasan tentang pengetahuan lebih tampak eklektik, yakni campuran dari berbagai tulisan orang, sambung menyambung, tidak solid, sehingga rentan terhadap hoaks.

"Apabila ada berita hoaks, maka cara yang paling efektif adalah melakukan kontra narasi. Bukan mencari siapa pelakunya. Yang berbahaya adalah ketika mereka melakukan propaganda, dan hoaks adalah salah satu dari propaganda itu. Karena itulah, analisis terhadap jaringan pasukan siber penting dilakukan untuk melihat evolusinya dari tahun ke tahun. Ini bisa dilihat bagaimana big data, psikologi, dan informasi, digunakan sebagai alat untuk memanipulasi publik, budaya dan demokrasi," ungkapnya.

Sementara itu, narasumber terakhir, Yulli Muthmainna mengatakan bahwa perempuan rentan dijadikan sebagai komoditas politik media.

"Meskipun banyak kritik yang telah dilontarkan namun belum mengubah praktik media dalam menampilkan perempuan. Media masih menampilkan perempuan dalam posisi subordinat", terangnya.

Prabowo ungkit impor beras, ini pembelaan kubu Jokowi
BPN: Jateng vs Malaysia hanya majas
Begini keseruan debat Jokowi dan Prabowo soal caleg mantan napi korupsi
Ruhut nilai SBY setengah hati dukung Prabowo
Fadli Zon sebut Jokowi terlalu dominan dalam debat
Kubu Jokowi nilai Prabowo gagal paham isu terorisme
Kubu Prabowo nilai dapat serangan pribadi saat debat
Tak dibahas di debat Pilpres, ini kata kubu Prabowo soal kasus Novel
TKN: Jokowi beri pukulan telak ke Prabowo
KPU akan evaluasi pelaksanaan debat pilpres
Legislator minta pemerintah perhatikan disabilitas rungu
PPP: Jokowi menang 3-1 atas Prabowo di debat pertama
Ini komentar AHY soal penampilan Prabowo-Sandi dalam debat
Kubu Prabowo dan Kubu Jokowi saling kritik penampilan Capres-Cawapres dalam debat
Ma'ruf Amin tak banyak bicara dalam debat, ini kata kubu Jokowi
Fetching news ...