Readup

Merayakan kemerdekaan diri versi Kishimi dan Koga

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Merayakan kemerdekaan diri versi Kishimi dan Koga "Pikiran dan perasaan orang lain bukanlah tugas kita untuk mengontrol." - Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga

Suguhan percakapan antara seorang filosof dan anak muda disajikan langsung ketika membuka buku ini pada halaman pertama. Layaknya percakapan yang biasa kita dapati di kalangan Filosof Yunani, sampai akhir buku ini Kishimi dan Koga menyuarakan ide dan konsep mereka meminjam suara filosof dan anak muda itu.

The Courage To Be Disliked (2018) mengusung pemikiran Alfred Adler mengenai teleology. Alfred Adler adalah seorang dokter, psikiater, dan founder sekolah “Individual Psychology”. Seperti halnya dua ilmuwan besar lainnya, yaitu Freud dan Jung, Adler dikenal sebagai tiga orang ilmuwan yang berpengaruh dalam perkembangan teori psikologi di abad 19.

Teleology yang diusung Adler menekankan kesadaran penuh seorang manusia sebagai manusia yang dibekali akal dan pikiran. Jika aetiology dari Freud memiliki formula “X terjadi di masa laluku, maka aku menjadi diri Y yang sekarang”, Adler memiliki formula “Aku yang ada dalam keadaan Y sekarang karena aku tidak mau ada dalam keadaan X atau tidak mau menghadapi X”.

Dahi sempat menciptakan lipatan-lipatan kernyitan bingung untuk benar memahami perbedaan konsep tersebut. Namun, Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga (penulis buku) berhasil menyederhanakan konsep itu dengan analogi yang begitu simpel dan sederhana. Dengan contoh hubungan orang tua dan anak yang dianggap memengaruhi motivasi belajar seorang anak Kishimi dan Koga menjelaskan bahwa itu sama sekali tidak ada hubungannya.

Kewajiban belajar seorang anak untuk capaian studi yang baik adalah tugas yang melekat padanya sebagai siswa. Apapun yang dilakukan orang tua, entah itu perhatian ataupun tidak pada anak, itu tidak ada hubungannya dengan kewajiban belajar anak. Bagi anak, tugasnya adalah belajar.

Adapun apresiasi atau perhatian orang tua pada dia, bukanlah tugasnya. Tidak perlu itu dijadikan alasan atau batu sandungan untuk segala langkahnya.  “The example given is a child who needs to study. No matter what the parents do, it is ultimately the child has to do the learning, the parents can’t study for child. So in this case, studying is the child’s task. Learning to separate your tasks from othe people’s is key to finding a bit of freedom, and living a little more true to yourself.” Pada bagian inilah konsep “separation of tasks” mulai ditawarkan oleh Kishimi dan Koga melalui buku ini.

Kishimi dan Koga mengafirmasi Adler yang percaya bahwa sesungguhnya hidup ini pangkalnya pada relasi dan hubungan antarindividu. Namun, bukan berarti afirmasi orang lain atas diri kita adalah hal utama. Bukan, bukan seperti itu. Tiap manusia punya akal pikiran untuk berkehendak ke arah yang baik. Apa pun dirinya, bagaimana pun keadaannya, atau seperti apa pun masa lalunya.

Kesadaran penuh yang dimiliki manusia itulah yang seharusnya digunakan untuk menguasai konsep “separation of tasks”. Tidak seharusnya diri kita dibebani oleh sesuatu yang bukan tugas kita. Pikiran dan perasaan orang lain bukanlah tugas kita untuk mengontrol.

Pertanyaan selanjutnya adalah konsep “separation of tasks” ini mengafirmasi keegoisan kah? Dua Penulis buku ini pun mengutip pemikiran Adler yang menyatakan “happiness doesn’t come from being selfish and self centred, but comes from being able to contribute to the good of the world”.

Berkontribusi pada sesama tidak sama dengan pengakuan orang lain atas diri kita. Haus pengakuan orang lain sama dengan mengharapkan selalu disukai oleh orang lain. Padahal, perasaan orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dikontrol dan sudah di luar tugas kita.

Dari buku ini juga pada akhirnya saya paham kontribusi adalah bergerak untuk memulai untuk kebaikan semuanya. Tidak perlu menunggu pujian atau persetujuan orang lain untuk memulai sesuatu yang kita pikir baik dan harus diubah.  Seperti yang diungkapkan sosok filosof pada buku ini pada anak muda:

“Someone has to start. Other people might not be cooperative, but that’s not connected to you. My advice is this: You shold start. With no regards to wether others are cooperative or not”.

Pada akhirnya, dengan kelegaan yang terasa usai membaca buku ini, saya mencoba menyimpulkan:

1. Hal yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dan berubah, bukan sejuta alasan.

2. Hal yang terpenting adalah tahu tugas kita, bukan terus memikirkan reaksi orang lain atas sikap dan diri kita.

3. Pangkal masalah dalam hidup adalah keadaan relasi kita dengan orang lain.

4. Menerima bahwa kita tidak selalu bisa menyenangkan orang lain.

5. Haus pengakuan diri dari orang lain sama dengan ego trap.

Buku ini bagi saya secara pribadi memancing keberanian dan kemerdekaan diri untuk bertindak. Keberanian yang terkadang harus kembali sembunyi ketika kita memikirkan reaksi orang lain atas sikap, pikiran, prestasi, kesalahan, dan segala hal dalam diri kita. Dalam Islam ada konsep lillahi ta’ala, selama kita yakin kita benar dan tidak keluar dari aturan Allah, maka mulai dan jalani dengan berani dan percaya diri. Mari merayakan kebebasan diri!

Penulis: Andalusia Neneng Permatasari, dosen pada Universitas Islam Bandung dan pegiat literasi.

Archandra beber strategi jual blok migas Indonesia
Mengingat 3 horor perkosaan di Indonesia
Fahri Hamzah: Pilpres lebih banyak perang gimmick, rakyat lapar bos
Agung Laksono nilai dukungan Soetrisno Bachir dongkrak suara Jokowi
Popularitas Habieb Rizieq turun, Golkar: masyarakat ingin kelembutan
TKN: Ustad Abdul Somad tak berpihak pada Prabowo
Demokrat ke Prabowo-Sandi: Apa yang menjadi janji harus ditepati
Demokrat tuding Sekjen Gerindra beri informasi tak utuh ke publik
Isi pembicaraan Jokowi dengan Putin
Sederet dampak buruk jika Anda miskin
PAN nilai Sandiaga Uno lebih tingkatkan elektabilitas dibanding Prabowo
Kubu Jokowi nilai kampanye negatif tak haram
Kubu Prabowo ingin lakukan taubat nasional
DPR RI kutuk serangan Israel atas warga Palestina
Sete Gibernau kembali balap Gran Prix setelah 10 tahun pensiun
Fetching news ...