Readup

30 tahun berkelana, berapa kali Ibnu Batutah menikah?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

30 tahun berkelana, berapa kali Ibnu Batutah menikah?

Tidak ada petualang yang tak mengenal Ibnu Batutah, yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati At-Tanji bin Batutah.

Dalam jangka waktu hampir tiga puluh tahun, petualang terbesar sepanjang sejarah itu menjelajahi sebagian besar Dunia Islam dan banyak negeri non-Muslim, termasuk Afrika Utara, Tanduk Afrika, Afrika Barat, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Tiongkok. Berdasarkan geografi saat ini, Batutah telah mengunjungi tak kurang dari 40 negara.

Terlepas dari petualangan yang fenomenal tersebut, ada yang bertanya, bagaimana kehidupan rumah tangganya? Apakah dia menikah?

Menjawab tanyaan tersebut, kita dapat mengacu tulisan Evan Andrews berjudul “Why Arab Scholar Ibn Batuta is the greatest explorer of all time” yang menyebut bahwa Ibnu Batutah selama hampir 30 tahun petualangannya telah menikah dan bercerai sebanyak 10 kali. Dia juga meninggalkan beberapa orang anak.

Menjelang akhir hayatnya, ia meriwayatkan kembali pengalaman-pengalamannya menjelajahi dunia untuk dibukukan dengan judul “Hadiah bagi Para Pemerhati Negeri-negeri Asing dan Pengalaman-pengalaman Luar Biasa (Arab: Tuḥfatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār), yang lazim disebut Lawatan (Arab: Ar-Rihlah). Tulisan ini diceritakan Batutah atas desakan penguasa Maroko kala itu, Abu Iman Faris pada tahun 1354 setelah Ibnu Batutah pulang kampung.

Riwayat perjalanan Ibnu Batutah menyajikan gambaran tentang peradaban Abad Pertengahan yang sampai sekarang masih dijadikan sumber rujukan. Ibnu Batutah tidak hanya menjadi pengamat ketika mengunjungi negeri-negeri asing. Di beberapa negara, dia sempat menjadi duta dan pejabat tinggi.

Segala hal-ihwal terkait jati diri dan kehidupan pribadi Ibnu Batutah yang diketahui orang sekarang ini bersumber dari riwayat hidupnya yang termaktub dalam Ar-Rihlah. Menurut sumber ini, pada bulan Juni 1325, saat berusia dua puluh satu tahun, Ibnu Batutah berangkat meninggalkan kampung halamannya untuk menunaikan ibadah haji, yakni perjalanan ziarah ke Mekah, yang kala itu lazimnya memerlukan waktu selama enam belas bulan. Ia tidak pernah lagi melihat Maroko semenjak keberangkatannya ke Mekah.

“Aku berangkat seorang diri, tanpa kawan seperjalanan sebagai pelipur lara, tanpa iring-iringan kafilah yang dapat kuikuti, namun didorong oleh hasrat yang menggebu-gebu di dalam diriku, dan impian yang sudah lama terpendam di dalam sanubariku untuk berziarah ke tempat-tempat suci yang mulia ini. Jadi, kubulatkan tekadku untuk meninggalkan orang-orang terkasih, perempuan maupun laki-laki, dan menelantarkan rumahku laksana burung-burung menelantarkan sarang-sarangnya. Alangkah berat rasanya berpisah dari kedua orang tuaku, yang masih hidup kala itu, dan baik beliau berdua maupun diriku sendiri sungguh-sungguh berduka karena harus berpisah,” katanya.

Ibnu Batutah berangkat ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri kawasan pesisir Afrika Utara. Demi keamanan, Ibnu Batutah seringkali berangkat bersama rombongan kafilah agar terhindar dari aksi perampokan. Ia bahkan sempat pula menikah di Kota Sifaks. Pernikahannya di Sifaks adalah pernikahan pertama dari serentetan pernikahan yang kelak dilakukannya selama berkelana menjelajahi pelosok-pelosok dunia.

Alih-alih pulang ke Maroko selepas berhaji, Ibnu Batutah malah ingin terus berkelana, dan memutuskan untuk bertolak ke arah timur laut menuju Ilkhanan (Negeri Ilkhan Hulagu), salah satu dari sekian banyak negeri yang diperintah oleh Khan Mongol. Ibnu Batutah juga sempat mengunjungi Nusantara, sebelum akhirnya merindukan kampung halamannya. Sayangnya, ketika sampai di tempat kelahirannya, ayahnya sudah meninggal 15 tahun yang lalu, sedangkan ibunya baru beberapa bulan saja meninggal.

Sejarahwan Taufik Abdullah dalam “Secercah Kisah: Ibnu Battuta, Sang Penjelajah Muslim Tanpa Tandingan” (2018) menyebut Ibnu Batutah sebagai pengelana nyaris tanpa tandingan karena sejumlah keistimewaan yang melekat padanya: luas wilayah yang dia jelajahi beserta kerumitannya, ilmu tasauf dan fikih yang dia kuasai, dan pelajar dengan pengetahuan dan pergaulan lintas dunia.

Kubu Jokowi klaim paling sedikit langgar aturan kampanye
Siapa pelanggar kampanye terbanyak? Ini kata Bawaslu
Bukan hanya barang, Cina juga bikin Kota Paris versi KW
3 bulan kampanye Pemilu, Bawaslu catat 192 ribu pelanggaran
\
Palestina jadi isu penting agenda diplomasi Parlemen
Penyebab korupsi menurut ahli filsafat Islam
Tanggapi #Sandiwara Uno, PAN: TKN sebaiknya fokus pada kebijakan dan program
Fahri Hamzah setuju pembentukan Pansus KTP elektronik
PDI: BPN pindah ke Jateng justru membangunkan banteng tidur
Sandi dituding playing victim, BPN: Jangan langsung tuduh
Fitnah Jokowi PKI, BPN minta La Nyalla diproses polisi
Momen kampanye, pengamat ragu DPR segera revisi UU perkawinan
PDIP minta Anies siaga hadapi bencana
Aktivis tunggu Prabowo minta maaf ke umat Islam
Fetching news ...