Readup

Meluruskan cara pandang tentang pernikahan dan keluarga

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Meluruskan cara pandang tentang pernikahan dan keluarga

Sebagian orang begitu terobsesi dengan pernikahan, yang dikira bakal secara otomatis membawa mereka kepada kebahagiaan. Sebagian yang lain justru ada yang trauma hidup bersama pasangan setelah pernikahan mereka justru bertolak belakang dari harapan.

Buku “Falsafah Keluarga” yang ditulis oleh Dhuha Hadiyansyah ini ini berusaha mendudukkan pernikahan secara wajar, sebagai fase yang dilalui dalam kehidupan seseorang.

Buku ini menawarkan cara pandang tentang pernikahan dan keluarga yang bisa jadi berbeda dari apa yang selama ini telah dipercaya oleh sebagian orang sebagai sebuah kebenaran. Dalam buku ini, penulis mendiskusikan pelbagai situasi sebelum, ketika hingga bagaimana pernikahan harus dibina atau diakhiri.

Buku bertema pernikahan dan keluarga ini dibuat tidak hanya untuk para lajang yang ingin memahami sistem pernikahan dan keluarga, tetapi juga mereka yang saat ini telah membina rumah tangga dan ingin meningkatkan kualitas hubungan mereka, baik dengan pasangan, anak-anak, keluarga asal, maupun orang lain secara umum.

Dhuha membagi buku ini ke dalam 6 bab plus sebuah sebuah penutup yang disebutnya sebagai Renungan, yang berisi tiga topik yaitu, Mengapa sampai salah memilih pasangan, bagaimana harus mengakhiri pernikahan, dan sendiri lagi tapi tetap bahagia. Di bagian ini penulis mengingatkan bahwa secara umum perempuan lebih sintas pascaperceraian.

Buku ini diakhiri oleh ringkasan dalam bentuk backronym, yaitu bahwa NIKAH adalah Nyaman, Intim, Kasih, Adil, dan Hangat, dan KELUARGA adalah Kesatuan, Energi, Lapang, Ungkapan perasaan, Acuan, Rahasia, Gayut, dan Asuh.

Bagi penulis, pernikahan adalah unit sistem sosial terkecil, yang sekaligus inti dari sistem sosial. Ketika sebuah pernikahan melahirkan seorang atau beberapa anak, sistem berubah nama menjadi keluarga. Perubahan sistem ini membuat kita harus menyesuaikan diri dengan tata kelola baru. Karena sebuah sistem, satu anggota akan mempengaruhi yang lain. Oleh sebab itu, kita harus memastikan bahwa semua komponen dalam keluarga berfungsi sebagaimana mustinya.

Dikatakan Dhuha, mengelola pernikahan tidak sama dengan mengelola keluarga; mengelola keluarga pun berbeda dengan mengelola masyarakat; mengatur masyarakat tak serupa dengan mengurus sebuah bangsa atau negara. Tiap-tiap sistem memerlukan keahlian tertentu. Orang yang berhasil mengurus masyarakat belum tentu berhasil mengurus rumah tangga, sebaliknya seorang kepala rumah tangga dari keluarga harmonis belum tentu mantap dalam mengurus negara. Tiap-tiap sistem memiliki keunikan tersendiri. Ini menarik karena banyak orang mengira bahwa untuk menjadi pemimpin masyarakat, orang harus berhasil memimpin keluarganya dulu.

Dari pengalamnnya sebagai konselor di Sekolah Rekonsiliasi, Dhuha memiliki banyak data kasus untuk didiskusikan dalam buku tersebut. Hal ini membuat buku ini semakin asyik untuk dibaca, karena tidak semata-mata berbasis teori. Bahkan, penulis berani menceritakan pengalaman di dalam keluarganya sendiri, misalnya ketika membicarakan sistem poligami, yang dilakukan oleh kakek buyutnya.

Terkait poligami, Dhuha memandang bahwa itu adalah realitas sejarah sebagai proses memanusiawikan perempuan, karena pada zaman pra-Islam poligini tidak dibatasi dan tidak ada persyaratan yang tegas. Selanjutnya, manusia ditakdirkan Allah untuk bergerak progresif, sehingga seharusnya dia mampu membuat sistem pernikahan dan keluarga yang sesuai dengan kondisi yang dihadapinya.

Saat jumlah kaum pria lebih banyak daripada perempuan (berdasarkan data di Indonesia dan dunia), kaum perempuan sadar terhadap kebutuhan perasaannya, dan kemungkinan mudarat yang besar pada sistem perkawinan majemuk, orang seharusnya berani untuk meninggalkan poligami. 

“Lagipula, masyhur dikalangan kita hadits yang berbunyi, ‘Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya,’ (HR At-Tirmidzi). Bagaimana mau menjadi yang terbaik jika sikapnya mengiris-iris hati istri? Pasalnya, secara tradisional keabsahan poligini tidak mensyaratkan persetujuan istri,” kata Dhuha.

Dhuha menyatakan bahwa peneladanan terhadap nabi-nabi (dalam kasus poligami) bukan pada mengulang peristiwanya secara persis, tetapi bagaimana mengambil nilai atau pelajaran dari peristiwa yang dialami mereka. Penulis mempertanyakan, apabila Nabi Muhammad SAW menikah pada usia 25 tahun dengan janda beranak usia 40 tahun. Lalu apakah perjaka Muslim saat ini harus diarahkan untuk menikahi janda beranak dua? Hal yang sama, menurut penulis, juga berlaku bagi poligami: Apakah kalau nabi poligami, kita pun harus begitu?

Selebihnya, ada banyak hal yang membuat pembaca bakal tercengang dan terpaksa harus merenung ketika membahas sebuah tema terkait cinta, pernikahan atau yang lain. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa pun ingin mengetahui seluk-beluk pernikahan dan keluarga dari sudut pandang yang lain dari biasanya.

Peresensi: Fikri Mahendra Jalal, Alumni Universtias Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Jati Bandung

Judul Buku: Falsafah Keluarga
Penerbit: Elex Media Komputindo (Gramedia Group)
Harga: Rp74.800
Tahun Terbit: 2018
Halaman: 320
Kertas: book paper 60

Prabowo ungkit impor beras, ini pembelaan kubu Jokowi
BPN: Jateng vs Malaysia hanya majas
Begini keseruan debat Jokowi dan Prabowo soal caleg mantan napi korupsi
Ruhut nilai SBY setengah hati dukung Prabowo
Fadli Zon sebut Jokowi terlalu dominan dalam debat
Kubu Jokowi nilai Prabowo gagal paham isu terorisme
Kubu Prabowo nilai dapat serangan pribadi saat debat
Tak dibahas di debat Pilpres, ini kata kubu Prabowo soal kasus Novel
TKN: Jokowi beri pukulan telak ke Prabowo
KPU akan evaluasi pelaksanaan debat pilpres
Legislator minta pemerintah perhatikan disabilitas rungu
PPP: Jokowi menang 3-1 atas Prabowo di debat pertama
Ini komentar AHY soal penampilan Prabowo-Sandi dalam debat
Kubu Prabowo dan Kubu Jokowi saling kritik penampilan Capres-Cawapres dalam debat
Ma'ruf Amin tak banyak bicara dalam debat, ini kata kubu Jokowi
Fetching news ...