Readup

Mengenal Tolotang, agama asli Indonesia yang di ambang punah

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengenal Tolotang, agama asli Indonesia yang di ambang punah

Di antara agama lokal Indonesia yang eksistensinya terancam adalah agama Tolotang. Agama ini hanya diimani oleh sekitar 5000 orang saja. Selain itu, karena agama ini tidak diakui di KTP, para pemeluknya menulis agama Hindu sebagai gantinya karena dianggap lebih mirip daripada Islam atau Kristen, meskipun juga tidak serupa dengan Hindu.

Kepercayaan Tolotang diyakini secara turun-menurun di Pulau Sulawesi. Kebanyakan penganutnya bermukim di Kelurahan Amparita lama, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan.

Secara kasat mata, tak ada ciri khusus yang membedakan komunitas ini dengan masyarakat sekitar yang mayoritas suku Bugis. Bahkan, mereka juga tetap menegaskan identitas dirinya selaku orang Bugis. Hanya saja, mereka punya kepercayaan berbeda dari warga lain yang mayoritas beragama Islam.

Penganut aliran kepercayaan ini menyembah Dewata Sewae, yang menciptakan dunia. Sementara itu, orang yang dianggap menerima wahyu pertama kali adalah Sawarigading. Tokoh selanjutnya adalah La Panaungi, yang dianggap masih hidup dan diangkat ke langit, serta akan turun kembali ke bumi.

Pemeluk Tolotang meyakini Kitab Lontara atau Sure Galigo sebagai kitab suci. Di dalamnya berisi Mula Ulona Batara Guru, Taggilina Sinapatie, Rittebanna WAlanrangge, Appongena Towanie yang mengungkapkan kisah-kisah tentang alam dan akhirat. Selain itu, terdapat juga Paseng dan Pammali sebagai sumber ajaran nilai dan norma.

Mereka memanggil tetua adat dengan “uwatta”, yang memiliki poeran sangat penting untuk melaksanakan sejumlah tradisi: pembagianw arisan, mediator persengketaan, dan pengambil keputusan-keputusan penting di masyarakat. Para uwatta ini diyakini sebagai keturunan dari Sawarigading, yang dapat berkomunikasi dengan Dewata Sewae.

Dikutip dari Eksiklopedia Meyakini Menghargai (2018:92), agama ini meyakini 5 ajaran, yaitu:

1. Percaya kepada Dewata Sewae

2. Percaya Kitab Suci (Lotaran, Pemmali, dan Pesae)

3. Percaya kepada penerima wahyu

4. Percaya kepada Hari Kiamat (Asolingeng Lino)

5. Percaya Hari Pembalasan (Lipo Bonga/surga)

Sejumlah ritual yang dilakukan pemeluk Tolotang antara lain Upacara Perrynyameng, yang dilakukan setahun sekali, yaitu pada bulan Januari. Ritual ini berupa ziarah ke makam Perrynyameng, yaitu leluhur mereka.

Upacara yang lain adalah penyiraman minyak bau (berbau harum). Mereka berkumpul dengan berpakaian serba putih, bersarung, dan mengenakan penutup kepala bagi laki-laki,s edangkan perempuan mengenakan pakaian seperti kebaya. Mereka bersila di atas tikar tradisional dengan penuh khidmat. Selanjutnya, uwatta memimpin penyembahan dengan terlebih dulu dilakukan penyiraman minyak bau pada batu leluhur yang disakralkan.

Mereka juga memiliki ritual khusus pada saat kematian dan pernikahan. Pada kelompok Benteng, prosesi kematian dan pernikahan mirip dengan yang dilakukan umat Islam. Sementara itu, kelompok lain, To Wani To Lotang, jenazah dimandikan lalu dibungkus dan dilapisis daun sirih, sedangkan pernikahan harus dilakukan di hadapan uwatta.

TKN sebut Ma'ruf Amin akan pakai ayat Alquran di debat ketiga
 Jelang debat ketiga, Ma'ruf Amin dapat masukan dari asosiasi profesi
Kubu Prabowo tepis tudingan politisasi munajat 212
Demokrat minta Jokowi buka dokumen dengan bos Freeport
Ma'ruf Amin bakal ikut dampingi Jokowi
PWJ desak polisi tangkap anggota FPI penganiaya wartawan
Bela Enembe, pendukung aksi tari adat di KPK
AJI kecam tindakan brutal FPI terhadap wartawan
TKN: Pidato Jokowi bukan untuk tandingi Prabowo
Bansos PKH upaya Jokowi kembangkan ekonomi digital
Anak sarapan bernutrisi  memiliki nilai akademis empat kali lebih tinggi
Jokowi akan gelar pidato di Konvensi Rakyat
Kubu Jokowi: Munajat 212 bagian dari politisasi agama
Fadli Zon: Jokowi berdebat seperti manajer
Kubu Jokowi: Tim debat Ma'ruf Amin sudah disiapkan
Fetching news ...