Teknologi

Ilmuwan Indonesia, AS kembangkan sistem baru peringatan tsunami

2.1K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:55
01 FEB 2017
Dok. Tsunami Jepang
Reporter
Stefanus Yugo
Sumber
Rimanews

Rimanews - Sistem deteksi tsunami di Indonesia, yang terdiri dari sensor-sensor dasar laut yang berhubungan dengan pelampung transmisi di permukaan, telah menjadi tidak berguna karena dirusak vandalisme dan kekurangan dana, demikian laporan VOA.

Sekarang para ilmuwan Indonesia dan Amerika Serikat mengatakan mereka telah mengembangkan sistem baru dengan pelampung-pelampung yang mahal dan kemungkinan lebih cepat beberapa menit dalam memberi peringatan di kota-kota pesisir yang rentan.

Prototipe tersebut, dibuat selama hampir empat tahun, dirancang untuk mendeteksi tsunami dekat daratan dan telah dicoba di Padang, Sumatera Barat. Sistem ini masih menunggu keputusan soal pendanaan pemerintah untuk menghubungkannya dengan badan-badan penanggulangan bencana di darat.

Tsunami yang dipicu gempa pada 26 Desember 2004 di Samudera Hindia yang membuat hampir 230.000 orang tewas atau hilang, sebagian besar di Indonesia, memicu urgensi memastikan masyarakat memiliki peringatan secepat mungkin. Namun ketika gempa besar menghantam dekat Kepulauan Mentawai, sekitar 170 kilometer dari Padang, Maret tahun lalu, tidak satu pun dari pelampung di daerah ini yang seharusnya mengirimkan peringatan tsunami bekerja.

Seorang pejabat pemerintah mengatakan ke-22 pelampung di Indonesia, yang harganya masing-masing beberapa ratus ribu dolar dan pengoperasiannya juga mahal, tidak ada yang bekerja akibat pengrusakan oleh awak kapal atau kurangnya dana perawatan.

Gempa di Mentawai itu tidak menimbulkan tsunami tapi evakuasi berlangsung ricuh di Padang, yang berpenduduk satu juta, dan kota-kota lain, yang memiliki waktu paling banyak 30 menit sebelum tsunami melanda. Karena kurangnya informasi, para petugas tidak membatalkan peringatan tsunami selama dua jam.

"Kini tidak ada pelampung di Indonesia. Semuanya rusak," ujar Iyan Turyana, insinyur kelautan di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

"Jika Anda tinggal di Padang, di Bengkulu, hidup Anda sangat berbahaya."
Jerman dan Amerika Serikat menyediakan 12 dari pelampung-pelampung itu, tapi tidak merawatnya, ujarnya.

Aceh identik dengan risiko tsunami, tapi sekarang Padang dan kota-kota di dekatnya menghadapi bahaya lebih besar disapu gelombang-gelombang raksasa.

Untuk meningkatkan kemampuan deteksi, Jepang yang rentan tsunami telah menghubungkan puluhan sensor dasar laut di lepas pesisir timurnya dengan kabel-kabel serat optik sepanjang ribuan kilometer. Sistem itu memakan biaya beberapa ratus juta dolar dan upaya yang sama mustahil diterapkan di Indonesia.

Namun dengan pendanaan US$3 juta dari Yayasan Sains Nasional AS, sebuah jaringan prototipe sensor bawah laut telah dipasang antara Padang dan Kepulauan Mentawai.

Pelampung-pelampung tidak diperlukan karena seismometer bawah laut dan sensor tekanan memberikan gelombang suara berisi data ke air permukaan yang hangat. Dari situ mereka berbelok kembali ke kedalaman laut, menempuh 20-30 kilometer ke simpul berikutnya di jaringan itu dan seterusnya.

Terbaru
23 Februari 2017 | 23:02
WhatsApp kloning fitur Snapchat
23 Februari 2017 | 21:04
WhatsApp pasang fitur status video
16 Februari 2017 | 07:00
Nokia jadul seri 3310 kembali dirilis
15 Februari 2017 | 14:09
Nokia kembali meluncurkan Nokia 3310
14 Februari 2017 | 11:18
Satelit Telkom 3S meluncur rabu subuh
13 Februari 2017 | 22:02
Telkom siap luncurkan satelit 3S
11 Februari 2017 | 06:30
Tip memaksimalkan kamera ponsel
10 Februari 2017 | 16:09
Vivo fokus garap ponsel untuk swafoto
10 Februari 2017 | 06:30
Facebook keluarkan kebijakan baru ...
9 Februari 2017 | 13:09
Zuckerberg abaikan tuntutan mundur
9 Februari 2017 | 10:31
LINE kembangkan fasilitas chatbot
3 Februari 2017 | 20:00
Tip proteksi ponsel dari penyadapan
2 Februari 2017 | 20:49
Penjualan mobil RRC terus menanjak
1 Februari 2017 | 23:05
Rolls-Royce Phantom tutup pabrik