Software

Keamanan siber akan jadi primadona di 2017

1.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
11:04
03 JAN 2017
Reporter
Ahmad
Sumber
Rimanews

Rimanews - Akhir Tahun 2016 ditandai dengan naiknya pengguna internet Indonesia dengan signifikan. APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mencatat ada lebih dari 132 juta pengguna internet di tanah air. Ini naik lebih dari 50% sejak tahun 2015.

Naiknya pengguna internet disebabkan oleh semakin luasnya cakupan internet yang diikuti oleh semakin terjangkaunya harga smartphone. Gawai satu ini memang menjadi alat utama dari interaksi dan komunikasi netizen tanah air, khususnya lewat media sosial dan aplikasi pesan singkat.

Naiknya pemakai internet dengan drastis ini ternyata juga diikuti dengan beberapa peristiwa yang berkait langsung dengan keamanan di dunia maya. Selama 2016 misalnya, ada masalah pada aplikasi GoJek, sehinga beberapa kali ada peristiwa hilangnya saldo GoPay pengguna. Belum lagi Yahoo yang diretas dan 1 miliar akun penggunanya terekspos oleh pihak ketiga.

Pakar keamanan siber Pratama Persadha melihat semangat SDM lokal dalam menghasilkan aplikasi dan layanan internet memang cukup besar. Namun perlu diperkuat dengan kesadaran untuk membangun sistem yang aman pula.

"Tentu tahun 2016 adalah tahun pembelajaran. Aplikasi dan layanan internet lokal harus membuktikan bahwa keamanan juga menjadi perhatian serius. Karena itu tahun 2017 fokus pada keamanan siber akan meningkat tajam di semua sektor, terutama perbankan yang mulai mengakrabi fintech," kata Pratama kepada Rimanews, hari ini.

Masalah keamanan perbankan memang ramai sepanjang 2016. Setidaknya beberapa peristiwa hilangnya uang nasabah menghiasi media-media nasional. Pencurian dana nasabah di Batam dan Mataram setidaknya kembali mengungkit betapa lemahnya keamanan sistem ATM perbankan nasional hari ini.

“Setidaknya kartu yang masih menggunakan pita magnetik dan mesin ATM yang masih memakai Windows XP adalah dua hal yang paling mudah dimanfaatkan pihak ketiga untuk mencuri dana nasbah,” jelas Pratama.

Ditambahkan olehnya, tahun 2017 pemerintah nasional harus memperkuat regulasi untuk memaksa perbankan melakukan updgrade sistem ATM demi keamanan nasabah. Kartu ATM dengan pita magnetic rawa pencurian datanya, belum lagi mesin ATM berbasis Wnidows XP yang sangat rawan karena tidak mendapat dukungan keamanan lagi dari Microsoft.

"Migrasi ke kartu ATM berbasis chip harus dipercepat, begitu juga dengan pembaharuan pada mesin ATM. Karena mesin ATM ini menjadi pintu masuk para pencuri ini mengambil data nasabah," terangnya.

Pratama menambahkan bahwa di tahun 2017 isu keamanan cyber akan semakin mendapat tempat. Oleh karena itu semua pihak sebaiknya belajar dari pengalaman sepanjang tahun 2016.

"Serangan DdoS, Ransomware, email phising masih akan menjadi masalah terbesar masyarakat dunia di wilayah siber. Ditambah dengan poor patch management yang memungkinkan lubang keamanan terbuka karena kelalaian manajerial. Ini semua bisa dikurangi dengan peningkatan keamanan siber secara kultural sekaligus didorong oleh pemerintah," jelas mantan pejabat Lembaga Sandi Negara ini.

Selain isu keamanan, di pertengahan sampai pada akhir 2016 isu tentang aplikasi dan layanan internet asing di tanah air juga jadi sorotan. Ini terkait keberadaan raksasa teknologi seperti Google dan Facebook yang belum jelas bentuk dan pembayaran pajaknya di Indonesia.

"Sebaiknya pemerintah mendorong betul berkembangnya industri aplikasi dan layanan internet buatan dalam negeri. Ini untuk mendorong masyarakat sedikit demi sedikit terlepas dari ketergantungan pada raksasa teknologi asing seperti Google dan Facebook," terang Chairman lembaga riset keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Terbaru
24 Maret 2017 | 13:41
Teka-teki nama android "O"
23 Maret 2017 | 10:04
Banyuwangi bikin aplikasi wisata
16 Maret 2017 | 22:33
Snapchat tambah fitur Bitmoji
15 Maret 2017 | 23:18
Ponsel bisa diretas lewat suara
13 Maret 2017 | 16:25
WhatsApp ganti status
Software