Software

Facebook manfaatkan AI identifikasi konten "terorisme"

2.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
22:06
16 JUN 2017
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Aljazeera

Rimanews - Di bawah tekanan sejumlah negara, Facebook meningkatkan upaya menghentikan penyebaran apa yang mereka sebut “propaganda teroris” menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Perusahaan yang bermarkas di California, Amerika Serikat, Kamis (15/06/2017), mengumumkan penggunaan AI untuk membantu karyawan yang bertugas meninjau konten yang diduga menyebarkan terorisme. Tujuannya agar Facebook dapat mengidentifikasi konten semacam itu dengan cepat dan segera menghapusnya.

Metode yang digunakan di antaranya pencocokan gambar dan pemahaman bahasa.

“Kami tahu, kami dapat memanfaatkan teknologi, khususnya kecerdasan buatan, lebih baik lagi untuk menghentikan penyebaran konten teroris di Facebook,” kata Monika Bickert, direktur manajemen kebijakan global Facebook, dan Brian Fishman, manajer kontra-terorisme perusahaan Mark Zuckerberg itu dalam sebuah pernyataan.

“Meski penggunaan AI yang kami lakukan untuk melawan terorisme masih tergolong baru, hal ini sudah mengubah metode kami dalam menjauhkan propaganda dan akun teroris dari Facebook,” tambah pernyataan tersebut.

“Kami ingin Facebook menjadi tempat yang tak bersahabat bagi teroris.”

Teknologi AI sudah digunakan untuk memblokir pornografi anak dari Facebook dan platform lainnya seperti YouTube. Namun, Facebook sebelumnya enggan menggunakan AI untuk hal lain yang menurut mereka belum jelas penggunaannya. Dalam banyak kasus, mereka hanya menghapus sebuah konten yang dilaporkan para pengguna.

Sejumlah negara tekan Facebook

Facebook, dan perusahaan teknologi lainnya, mendapatkan tekanan cukup besar dari sejumlah negara untuk mengidentifikasi dan mencegah penyebaran propaganda dan perekrutan teroris melalui layanan mereka.

Pejabat sejumlah negara bahkan mengancam akan menjatuhkan denda kepada Facebook, yang memiliki hampir 2 miliar pengguna di seluruh dunia, dan mencabut perlindungan hukum yang selama ini mereka nikmati dengan tidak bertanggung jawab atas setiap konten yang diunggap pengguna.

Pengumuman yang dilakukan Facebook sama sekali tidak menyebut soal tekanan itu. Tapi, mereka mengatakan bahwa “menyusul serangan teror baru-baru ini, banyak orang mempertanyakan peran perusahaan teknologi dalam memerangi terorisme online”.

Facebook menambahkan bahwa mereka ingin “menjawab pertanyaan itu” dan sepakat “dengan orang-orang yang mengatakan kalau media social tidak boleh menjadi tempat bersuara para teroris”.

Kementerian dalam negeri Inggris menyambut keputusan Facebook, tapi merasa bahwa perusahaan teknologi dapat melakukan lebih banyak lagi.

“Termasuk penggunaan solusi teknis sehingga konten teroris dapat diidentifikasi dan dihapus sebelum tersebar luas, dan bahkan mungkin tidak dapat diunggah sama sekali,” kata juru bicara kementerian tersebut, Kamis.

Di antara teknik AI yang digunakan Facebook adalah pencocokan gambar, yang membandingkan foto serta video yang diunggah pengguna dengan gambar-gambar terorisme yang “populer”. Gambar populer tersebut bisa berasal dari konten yang pernah dihapus Facebook atau didapat dari hasil saling tukar database dengan YouTube, Twitter, dan Microsoft.

Dalam pernyataannya, Bickert dan Fishman mengatakan, Facebook akan langsung memeriksa konten berbau teror yang dilaporkan kepada mereka sesegera mungkin. Namun, mereka juga mengakui “AI tidak dapat mengetahui segala hal” dan kemampuan teknologi “belum sebaik manusia dalam hal pemahaman” tentang konten apa saja yang seharusnya dihapus.

Untuk memecahkan masalah tersebut, Facebook akan tetap menggunakan tenaga ahli manusia untuk meninjau laporan dan menilai konteks setiap unggahan tersebut apakah layak tetap tayang atau harus segera dihapus.

Sebelumnya, Facebook dilaporkan merekrut 3.000 orang untuk meninjau konten yang dilaporkan pengguna. Facebook juga mengatakan, akan terus bekerja sama dengan perusahaan teknologi lainnya, termasuk pemerintah dan badan atar pemerintah untuk melawan penyebaran terorisme online. 

Software